Tampilkan postingan dengan label Inklusi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inklusi. Tampilkan semua postingan

DPD PERTUNI Jawa Timur telah menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) antar pengurus pada bulan Januari 2022 lalu. Tujuan dari rakor ini adalah merancang program-program kerja selama lima tahun ke depan. Hasilnya, sebanyak 11 program prioritas telah dirumuskan berdasarkan hasil keputusan saat rapat. Salah satu program prioritas adalah Bakti Sosial. Latar belakang dari program ini adalah karena kurang percaya diri dan merasa terdiskriminasi. Sehingga, program ini dirumuskan untuk mensosialisasikan tunanetra terhadap masyarakat umum melalui berbagai kegiatan seperti berbagi takjil saat bulan Ramadhan, ikut berpartisipasi aktif saat peringatan hari-hari besar, dan lain sebagainya.

Berdasarkan surat nomor 009/K/DPD/PERTUNI-JATIM/03-2023 tentang edaran pelaksanaan bakti sosial, PERTUNI Jatim menghimbau agar cabang-cabang PERTUNI di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur untuk melaksanakan bakti sosial selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menjalin interaksi positif dengan masyarakat. Hasilnya, Sebagian besar cabang PERTUNI di kabupaten/kota telah melaksanakan kegiatan bakti sosial. Adapun, cabang-cabang PERTUNI yang melaksanakan bakti sosial adalah sebagai berikut.

Baksos Kota Surabaya

 

 

PERTUNI cabang Kota Surabaya telah melaksanakan bakti sosial selama beberapa hari di sejumlah tempat. Tempat-tempat tersebut meliputi lima wilayah di Surabaya. Lima wilayah tersebut diantaranya Surabaya selatan, Surabaya Timur, Surabaya Pusat, Surabaya Barat, dan Surabaya Utara. Kegiatan ini dilaksanakan pada sore hari saat akan berbuka puasa. Sebanyak 50 paket di setiap wilayah, PERTUNI Kota Surabaya telah membagi-bagikan takjil kepada masyarakat. Jumlah tersebut berasal dari hasil swadaya anggota.

 

Ba        ksos Probolinggo Raya

     

 

PE    RTUNI cabang kabupaten dan kota Probolinggo bekerja sama untuk menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Kegiatan tersebut bertempat di Randu Pangger. Lokasi tersebut merupakan perbatasan antara kabupaten dan kota Probolinggo. Sebanyak 200 paket takjil telah dibagikan terhadap para pengguna jalan yang melewati di daerah tersebut. Selain itu, 40 bungkus kolak dan 2 bungkus cemilan juga didistribusikan kepada para tukang becak yang ada dan tempat ibadah disekitar. Jumlah tersebut merupakan hasil dari iuran para anggota dan donator yang ikut serta dalam mensuksesan kegiatan bakti sosial tersebut.

 

 

Baksos Kabupaten Jember

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Jember telah melaksanakan bakti sosial di sejumlah titik di daerah sekitar pusat kota Jember. Selain itu, PERTUNI Jember juga memperluas wilayah untuk kegiatan ini hingga ke daerah-daerah pinggiran. Kegiatan tersebut berupa bagi-bagi takjil untuk masyarakat sekitar. Di tahun ini, PERTUNI Jember melakukan inofasi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Inofasi tersebut berupa membagikan paket-paket takjil hasil dari pembelian di warung-warung kecil dan usaha produksi makanan yang dikelola oleh beberapa anggota PERTUNI Jember. Tujuan dari inofasi ini adalah untuk lebih menghargai dan membantu sesama.

 

 

Baksos Kota Blitar

 

 

 

PERTUNI Kota Blitar telah menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di alun-alun kota Blitar. Bakti sosial tersebut berupa bagi-bagi takjil terhadap masyarakat sekitar. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan anggota PERTUNI kota Blitar.

 

Baksos Kabupaten Pasuruan

 

 

 

Sabtu, 15 April 2023, PERTUNI cabang Kabupaten Pasuruan telah mengadakan kegiatan bakti sosial berupa membagi-bagikan sebanyak 240 paket takjil kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar masjid Baitul Rokhman, desa Sumberagung kecamatan Grati. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, dinas sosial kabupaten Pasuruan, donatur dan sponsorship yang turut serta memeriahkan bakti sosial. Dalam kegiatan ini, PERTUNI Kabupaten Pasuruan Berkolaborasi dengan warga desa sekitar untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Selain bagi-bagi takjil, PERTUNI Kabupaten Pasuruan juga mengadakan kegiatan pembagian zakat.

 

Baksos Kabupaten Blitar

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Blitar telah mengadakan bakti sosial berupa bagi-bagi takjil. Kegiatan tersebut bertempat di dusun Papungan desa Papungan kecamatan Kanigoro pada kamis, 6 April 2023. Dalam kegiatan ini, PERTUNI Kabupaten Blitar telah berkolaborasi dengan masyarakat sekitar.

 

Baksos Kabupaten Tulungagung

 

 

 

PERTUNI Kabupaten Tulungagung yang berkolaborasi dengan SLB PGRI Kedungwaru dan masyarakat sekitar telah mengadakan kegiatan bakti sosial berupa bagi takjil. Kegiatan tersebut bertempat di JL. Ngujang, Kedungwaru. Paket-paket takjil tersebut berasal dari swadaya anggota PERTUNI dan para donatur.

 

 

Baksos Kabupaten Jombang

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Jombang telah mengadakan bakti sosial pada rabu, 19 April 2023. Kegiatan tersebut bertempat di JL. K.H. Wahid Hasyim, Jombang. Sebanyak 100 paket takjil telah dibagikan kepada para pengguna jalan yang melintas.

 

Baksos Kabupaten Tuban

 

 

 

Rabu, 19 April 2023, PERTUNI Kabupaten Tuban telah mengadakan bakti sosial yang berupa bagi-bagi takjil. Sebanyak 200 paket takjil telah dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas disekitar kantor kecamatan Plumpang.

 

Baksos Kabupaten Kediri

 

 

 

Pada sabtu, 8 April 2023, PERTUNI cabang kabupaten Kediri telah mengadakan bakti sosial. Kegiatan ini dilanjutkan dengan buka bersama.

 

 

          

Buka Kesempatan Disabilitas Netra Berkuliah: PERTUNI Jatim Adakan Sosialisasi Seleksi Masuk Perguruan tinggi 2023



DPD PERTUNI Jawa Timur melalui biro pemuda, pelajar dan mahasiswa telah mengadakan sosialisasi jalur seleksi masuk perguruan tinggi tahun 2023 pada sabtu, 1 April 2023. Sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa peserta yang mayoritas berstatus pelajar. Para peserta berasal dari anggota PERTUNI cabang di Jawa Timur. Hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah DR. Aniek Handajani S.Pd, M.Ed, selaku staff kurikulum bidang PKPLK Dinas Pendidikan Jawa Timur dan Layta Dinira S.Si, M.Si, staff ahli Universitas Brawijaya.

Tujuan diadakannya sosialisasi ini adalah untuk memberikan akses informasi bagi para pelajar disabilitas netra yang akan melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi. Sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen PERTUNI Jawa Timur untuk membuka kesempatan yang lebih luas agar disabilitas netra dapat berkuliah.

“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian PERTUNI Jawa Timur untuk membangun SDM disabilitas tunanetra yang bermutu. DPD PERTUNI Jawa Timur selalu mendukung disabilitas netra untuk bisa terus melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi”. Tutur Tommy. Pria yang menjabat sebagai ketua biro pemuda, pelajar dan mahasiswa ini juga berpesan, “Jangan pernah berhenti untuk mengejar Pendidikan. Kalau bisa, tidak hanya sampai sarjana saja. Jika mampu, teruslah tingkatkan Pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Karena kita sebenarnya memiliki banyak peluang untuk mewujudkan akan hal itu”.

Dalam sosialisasi ini, hadir ketua II DPD PERTUNI Jawa Timur, Alfian Andhika Yudistira.

“Terima kasih kami sampaikan kepada para narasumber yang telah bersedia memberikan informasi terhadap anggota-anggota pelajar kami. Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi kita semua”. Ujarnya.

Berdasarkan pendataan yang dilakukanBiro Riset dan Integrasi Data PERTUNI Jawa Timur, jumlah anggota yang masih pelajar dan mahasiswa sejumlah 4,2% dari 1301 anggota di Jawa Timur. Menurut Alfian jumlah tersebut memiliki potensi yang besar apa lagi  dengan jumlah pelajar lulusan SMA atau setara sebanyak 2,9% atau sekitar 290-an siswa.

Berdasarkan data tersebut, Alfian berharap para pelajar disabilitas netra di Jawa Timur lebih semangat lagi dalam menempuh Pendidikan.

“Kami berharap, kemudahan-kemudahan yang ada saat ini hendaknya dimanfaatkan teman-teman untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri atau swasta”. Tutupnya

 

  

Sosialisasi Aktif Terhadap Masyarakat Dapat Tingkatkan Kemajuan inklusi di Indonesia



Bagi masyarakat luas, penyandang disabilitas masih dianggap memiliki keterbatasan yang menghalangi untuk menjalani aktifitas sehari-hari. Stikma tersebut masih melekat di anggapan masyarakat. Namun, apakah kita terus-menerus menyalahkan masyarakat? Tentu saja tidak. Memang tidak serta merta kita mampu merubah stikma yang telah lama ada. Diperlukan kesabaran dan kepandaian untuk mewujudkan hal tersebut. Seperti yang telah dicontohkan pada sebuah agenda “nobar” film yang membahas tentang aksesibilitas layanan publik bagi disabilitas saat kegiatan kemah inklusi yang diselenggarakan oleh PPDIS (Pelopor Peduli Disabilitas) di kabupaten Situbondo, Jawa Timur pada jumat, 17/3/2023, malam. Film tersebut berjudul “Mencari Jalan Setara”. Dalam film itu ditunjukan jalan yang kurang aksesibel bagi pengguna kursi roda. Terdapat garis pembatas yang lumayan tinggi sehingga pengguna kursi roda mengalami kesulitan untuk melewatinya. Dalam film tersebut, pemeran yang merupakan disabilitasfisik itu melakukan sosialisasi dengan cara ia berusaha untuk mandiri dalam bermobilitas. Contoh tersebut termasuk sosialisasi dari disabilitas terhadap masyarakat luas untuk menunjukkan bahwa disabilitas bisa melakukan aktifitas seperti yang lain. Mereka bjuga bisa bermobilitas sama seperti yang lain. Hanya saja, terkadang tempat-tempat publik masih perlu dibenahi agar semua pengguna dari segala lapisan masyarakat dapat menggunakannya. Pesan dari salah seorang pemeran film tersebut merupakan contoh untuk memberikan saran terhadap pemerintah.

Ketua PPDIS, Luluk Ariyantiny juga menceritakan tentang perjuanganya dalam mensosialisasikan tentang disabilitas terhadap pemerintah. Menurut dia, banyak cara yang dapat dilakukan untuk hal itu. Slaah satunya adalah dengan adanya komunikasi aktif terhadap instansi-instansi terkait.

Dalam agenda tersebut juga membahas tentang aksesibilitas bagi tunanetra dalam menggunakan layanan publik. Sebagai contoh, guiding block. Guiding block atau jalur pemandu adalah markah yang dipasang untuk membantu penyandang disabilitas khususnya tuna netra ketika berjalan.

Tekstur di guiding block bisa dimanfaatkan oleh penyandang disabilitas untuk mengarahkan atau memberi peringatan.

Biasanya, guiding block dipasang di trotoar, stasiun, terminal, dan berbagai fasilitas umum lainnya. Hal itu telah membuktikan bahwa pihak pemerintah juga berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari warganya. Namun dalam penerapannya, masih ada kekurangan-kekurangan yang perlu dibenahi. Seperti yang disampaikan oleh Deni Kurniawan saat sharing santai usai nobar film “Mencari Jalan Setara”. Menurutnya, banyak yang menyalahgunakan guiding block untuk fungsi-fungsi yang lain. Sebagai contoh, terdapat parkiran motor yang berada tepat di guiding block tersebut. Sehingga para penyandang tunanetra apabila melewati guiding block tersebut harus berhati-hati dan mencari jalan lain.

“Memang diperlukan sosialisasi terhadap masyarakat luas. Selain itu, kesadaran dan toleransi antar sesama juga sangat berpengaruh untuk kelancaran pembangunan yang inklusif”. Tambah pria yang menjabat sebagai ketua biro hukum dan adfokasi itu.

 

Anggota Kehormatan PERTUNI Cabang Jember, Yang Tak Sekedar Hormat-Hormatan saja






18 Februari 2023 PERTUNI Cabang Kabupaten Jember menyelenggarakan Musyawarah Cabang VI. Selain pemilihan Ketua Dewan Pengurus Cabang dan Dewan Pengawas Cabang PERTUNI Jember juga memutuskan memberikan SK Angota Kehormatan kepada 2 orang awas/non disabilitas netra yang telah berdedikasi terhadap PERTUNI Jember.

Drs. Wahyono, M.M, lahir di Solo, 3 Desember 1958. Mulai mengenal disabilitas khususnya netra sejak duduk di bangku kuliah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLBN) Surabaya pada 1981 – 1983. Di masa kuliah beliau pernah membantu kepanitiaan pekan olah raga penyandang cacat yang diadakan oleh BPOC ( Badan Pembina Olahraga Cacat) atau yang sekarang berubah nama menjadi NPC.

Pada tahun 1983 beliau mengajar di SLB-A-B-C Taman Pendidikan dan Asuhan Jember (SLBN Branjangan) sekarang. Tak hanya sekedar mengajar, Wahyono juga menguasai  penggunaan huruf Braille, jendela dunia disabilitas netra yang paling utama saat itu. Bahasa Indonesia, Matematika, kimia, dan fisika, dikuasainya agar muridnya yang disabilitas netra mengenal banyak ilmu pengetahuan.

Di sekolah ini juga Wahyono bertemu dengan belahan jiwa: Sudarti Ningtyas, S.Pd, wanita kelahiran Jombang 16 September 1963 yang juga guru SLB-A-B-C Jember hingga sekarang.

Di tahun 1991, Wahyono diangkat menjadi kepala Sekolah SLB-A TPA (SLBN Branjangan) Jember. Dengan demikian, totallitas Wahyono terhadap siswa dan penyandang disabilitas netra semakin nampak, apa lagi beliau telah mempunyai kewenangan yang memberikan manfaat bagi para siswanya.

29 April 1994 PERTUNI Jember berdiri, dan Wahyono beserta istri menyediakan diri sebagai pendamping (mitra bakti) hingga kini.

Tak hanya soal administrasi, Wahyono juga turut serta dalam menghadiri pelantikan PERTUNI Jember di Surabaya, 29 Mei 1994 silam, mendampingi Jember dalam Muscab Lub 1996 DPD PERTUNI Jatim setelah ketua terpilih Bapak soepardik meninggal, Dan ikut serta menjadi mitra bakti DPD PERTUNI Jatim  dalam MUNAS 1999 di Jakarta.

Sementara itu, sang istri (Sudarti terlibat langsung membantu staf bendahara Pertuni, kesekretariatan, koperasi Pertuni, dan terlibat total dalam berbagai kegiatan PERTUNI lainnya.

Hingga saat ini, baik Wahyono maupun Sudarti tetap eksis berada di tengah teman-teman PERTUNI Jember, baik mendukung secara moral maupun materiyil.

Bagi DPD PERTUNI Jatim, anggota kehormatan memang tak bisa diberikan kepada sembarang orang. Kontribusi positif orang non disabilitas diharapkan utamanya dalam mensosialisasikan keberadaan disabilitas netra dan kompetensinya di masyarakat luas. Dukungan dalam berorganisasi pun menjadi penilaian utama. Anggota kehormatan tak sekedar orang yang punya gelar terhormat, melainkan dedikasi yang luar biasa sehingga kita semua layak menghormatinya dan menjadikannya teladan dalam pergerakan perjuangan berorganisasi untuk disabilitas netra yang lebih baik di daerah masing-masing.

  

Kamis, 26 Januari 2023, DPD PERTUNI Jawa Timur mendapat kesempatan bincang-bincang pagi di Radio RRI Pro II Surabaya dalam program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2) yang di pandu oleh Erella. Bergabung secara virtual Gema selaku Ketua Daerah , Alfian selaku Ketua II, dan Rachman selaku Ketua Dewasda PERTUNI Jawa Timur.

Di peringatan 57 hari ulang tahun PERTUNI ke-57, Rachman mengungkapkan perjuangan teman-teman disabilitas netra dalam memperoleh akses pendidikan tidaklah muda. Banyak yang telah diupayakan dan dikorbankan agar pendidikan di Indonesia lebih baik untuk semua kalangan. Di Jawa Timur sendiri berbagai sekolah Negeri dan Swasta sudah menerima siswa dengan disabilitas, namun ini hanya terjadi di kota-kota besar saja. Di daerah-daerah perjuangan ini masih perlu diperkuat lagi. 

Gema menambahkan, proses perjuangan itu juga terhambat lantaran banyak disabilitas netra yang memilih tetap berada di zona nyamannya dengan bersekolah di SLB atau mengikuti kakak kelasnya di sekolah-sekolah yang sudah pernah menerima disabilitas netra. Hal ini menyebabkan sebaran disabilitas netra yang bersekolah di sekolah regular sangat minim. Alfian mengatakan dari pendataan yang dilakukan DPD PERTUNI Jawa Timur April-Juni 2022, tercatat 16,9% dari 1301 total anggota PERTUNI di Jawa Timur tidak bersekolah atau tidak lulus SD. Selain itu yang saat itu menjadi pelajar dan mahasiswa hanya 4.2%. pendataan yang dilakukan juga mencatat disabilitas netra yang lulus S1/setara sejumlah 5,6%. Hal ini berdampak pada sulitnya mereka mengakses dunia kerja karena persyaratan yang dibebankan kepada calon pekerja lebih banyak pada syarat pendidikan.

Dalam bincang pagi yang berlangsung serius namun santai, Gema juga menjelaskan bahwa kemandirian, keterampilan, dan tekat yang kuat sangat diperlukan dalam mengakses dunia pendidikan yang inklusif serta dunia kerja yang menuntut semua orang harus produktif. Rachman berpesan, sudah saatnya disabilitas netra sekarang lebih melek teknologi, lebih berani melangkah, serta lebih mau membuka diri kepada sesama.

Untuk itu, Alfian menyatakan ke depan DPD PERTUNI Jawa Timur akan mengupayakan untuk mengadakan program-program yang membuka wawasan bagi anggota, serta menambah keterampilan mereka dengan 11 program prioritas yang dimiliki yaitu: Bakti Sosial untuk masyarakat non disabilitas yang membutuhkan, kunjung tetangga dengan masyarakat sekitar, peningkatan wawasan kepemiluan, kesehatan reproduksi dan kemandirian dalam beraktifitas sehari-hari, serta peningkatan kualitas kepemimpinan individu disabilitas netra agar dapat meningkatkan kaderisasi dalam organisasi.

DPD PERTUNI Jawa Timur berharap kontribusi positif ini juga dapat diikuti oleh PERTUNI cabang se-Jawa Timur sesuai dengan kesepakatan yang telah dilakukan dalam Rapat Koordinasi Disabilitas Sensorik (Netra) / Rapat Kerja DPD PERTUNI Jawa Timur yang telah dilakukan Desember 2022 yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial Probinsi Jawa Timur. 

    Dewan Pengurus Daerah (DPD) PERTUNI Jawa Timur telah melaksanakan rapat koordinasi antar pengurus pada Januari lalu. Dalam rapat tersebut, para pengurus berdiskusi tentang program kerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. Hasil dari diskusi tersebut adalah adanya sebelas program prioritas yang telah dipertimbangkan dengan matang oleh para pengurus PERTUNI Jawa Timur. Sebelas program tersebut disosialisasikan saat kegiatan rapat kerja daerah (Rakerda) yang diselenggarakan pada akhir November lalu. Adapun, sebelas program prioritas tersebut adalah:


Bakti Sosial.


Program ini bertujuan untuk membuat tunanetra lebih aktif dalam berkontribusi terhadap lingkungan sekitar atau masyarakat luas. Program ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kolaborasi dengan masyarakat/komunitas, pendistribusian (baik material maupun non material), aktif berpartisipasi memperingati hari-hari besar, dan kegiatan-kegiatan lain. Yang melaksanakan program ini adalah para tunanetra di seluruh cabang kabupaten/kota di Jawa Timur.


Kunjung Tetangga


Kunjung tetangga adalah sebuah program yang memiliki sedikit persamaan dengan bakti sosial. Program ini bertujuan untuk mengajak disabilitas netra anggota PERTUNI Cabang di Jawa Timur berpartisipasi aktif sehingga terjalin interaksi yang positif dengan masyarakat. Tujuan ini relevan dengan kondisi Sebagian tunanetra yang masih kurang percaya diri, sehingga masyarakat kurang mengetahui akan hal itu. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk berdiskusi aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar, berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan dengan masyarakat, melakukan kunjungan terhadap instansi-instansi, baik pemerintah maupun non pemerintah. 


Activity Daily Living


Activity daily living adalah sebuah kegiatan yang cenderung kepada apa yang dilakukan sehari-hari. Tujuan dari program ini adalah untuk melatih kemandirian para tunanetra dalam menjalani aktifitasnya. Sebab, masih banyak tunanetra yang kurang mampu dalam melakukan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. 


Parenting


Masih berhubungan dengan program sebelumnya, parenting ini bertujuan untuk membuat para tunanetra menjadi lebih mandiri. Hanya saja, dalam program ini cenderung kepada keluarga yang kurang mendukung anggotanya (tunanetra) dalam mengembangkan kemampuannya. 


Memasak


Program ini bertujuan untuk membuat para tunanetra bisa mandiri dalam perihal tataboga. Karena, masih banyak tunanetra yang kurang mampu di bidang ini. Hal itu disebabkan karena kurangnya dukungan dari keluarga, atau kurangnya kemauan dari diri sendiri untuk berkembang lebih baik. Bentuk kegiatan ini berupa pelatihan-pelatihan. 

Orientasi Mobilitas


Orientasi mobilitas adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan secara mandiri. Baik itu dirumah maupun diluar. Program ini bertujuan untuk membuat tunanetra tidak bergantung terhadap orang lain. 


Kesehatan Reproduksi


Kekerasan seksual kerap terjadi akhir-akhir ini. Banyak anak-anak dan perempuan yang mengalami Tindakan ini. Menurut data dari kementrian pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak, tahun ini telah terjadi sebanyak 23.653 kasus. Kasus terbanyak terjadi terhadap perempuan dengan 21.516 kasus. Beberapa kasus dari jumlah tersebut diantaranya terjadi pada disabilitas, khususnya disabilitas netra. Oleh karena itu, PERTUNI Jawa Timur telah mencanangkan sebuah program yang Bernama Kesehatan reproduksi. Tujuan dari program ini adalah untuk mengedukasi para tunanetra agar memahami tentang pentingnya menjaga Kesehatan reproduksi. Bentuk kegiatan ini adalah dengan diadakannya diklat ataupun talkshow. 


Diklat Penyelenggaraan Pemilu


Program ini bertujuan untuk mengedukasi para tunanetra dan juga mensosialisasikan kepada stakeholder terkait bahwa tunanetra juga memiliki hak terhadap pemilihan suara. Karena ada beberapa kasus dimana seorang tunanetra kurang mendapatkan pelayanan yang maksimal dari petugas TPS. 


Diklat Pengawasan Pemilu


Program ini masih memiliki hubungan dengan program penyelenggaraan pemilu. Hanya saja, diklat pengawasan pemilu ini lebih ke sosialisasi terhadap para tunanetra tentang pentingnya hak dan kewajiban sebagai warganegara.


Pengabdian Masyarakat


Pengabdian masyarakat adalah sebuah program yang bertujuan untuk membuat para tunanetra berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial. Contoh, turut berpartisipasi dalam membantu masyarakat dalam menanggulangi bencana disebuah daerah.


Latihan Kepemimpinan


Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan kader-kader muda tunanetra agar memiliki jiwa kepemimpinan. Sehingga mereka dapat berkontribusi aktif dalam organisasi. 


Kesebelas program tersebut dipresentasikan oleh beberapa pengurus PERTUNI Jawa Timur. Menurut Muhni, salah seoran peserta sekaligus ketua DPC PERTUNI Kabupaten Magetan, seluruh program tersebut sangat bagus, baik di PERTUNI sendiri maupun pemerintah. “Saya dan anggota PERTUNI Magetan sangat antusias dengan sebelas program prioritas yang telah dirumuskan oleh PERTUNI Jawa Timur”, ujar Muhni. 

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Silvia, salah satu pemateri dalam sebelas program prioritas yang telah dipresentasikan. Menurutnya, program-program tersebut sangat penting untuk dilakukan di cabang. 

“Dari sebelas program yang di rencanakan dalam rakerda tahun ini sangat diperlukan bagi semua anggota pertuni Jatim, terutama khususnya program Diklat pengawasan pemilu. Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah penyandang tunanetra yang memiliki hak pemilih di Jawa timur sebanyak 9.212 orang, yang dari jumlah tersebut 96,21%nya adalah anggota yang terdaftar pertuni. Namun dari jumlah hak pilih tersebut masih di ketemukan banyak anggota pertuni yang masih belum memahami tentang hak dan kewajiban mereka dalam pemilu. Untuk itu program diklat pengawasan pemilu sangat penting bagi penyandang disabilitas tunanetra anggota pertuni agar mereka mampu menyalurkan hak dan kewajiban mereka sebagai pemilih dan pengawas dalam pemilu”. “Saya harap anggota pertuni dapat dilibatkan dalam proses pengawasan pemilu oleh KPUD Jatim.”. Lanjut Silvia. 


Masa kini setiap orang berlomba-lomba untuk menempatkan diri pada tempat yang dianggap dapat membawa dirinya ke fase kehidupan yang lebih baik dan menguntungkan. Baik itu dalam Pendidikan, pekerjaan, dan status social di dalam masyarakat. Hal ini berlaku pula bagi seseorang yang memiliki anugrah berupa kedisabilitasan atau memiliki perbedaan pada fisik atau pun mental.

Sejatinya menjadi disabilitas adalah ladang untuk kita menggali potensi dan memantapkan kompetensi. Namun yang sering terjadi seorang disabilitas malah terkungkung dengan tempurung ketidak mandirian sehingga potensi-potensi yang harusnya bisa dimiliki hanya menjadi keinginan diri tanpa pernah terwujud. Menurut saya, kasus ini terjadi juga pada disabilitas netra di Jawa Timur. Factor tempurung ketidak mandirian itu dapat bermacam-macam.

Dari factor internal : terbiasa di tolong dan diberikan sesuatu terkadang membuat kita lalai bahwa sebagai manusia kita juga punya kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, sehingga kita akan menjadi pemalas dengan sejuta bayangan keberhasilan yang tak pernah terwujud. Selain itu, kemauan menjadi mandiri terkadang tidak ada pada diri kita meskipun diluar sana kita tahu banyak teman-teman yang sudah berhasil keluar dari tempurung yang sedang membuat kita terkungkung. Biasanya, ini terjadi karena beberapa alas an yang kita buat sendiri. Alas an yang paling sering muncul adalah ketakutan. Entah takut dimarahi orang tua, takut menjadi korban kejahatan, takut jatuh, dan lain sebagainya.

Ya, memang ketakutan-ketakutan itu mungkin akan kita alami. Tapi, coba kita nilai dari sudut pandang yang positif, sesuatu yang buruk yang kita alami akan membuat kita menjadi tangguh di lain waktu bukan?

Yang berikutnya adalah factor eksternal. Ini biasanya terjadi pada lingkungan keluarga. Tidak bisa dipungkiri mempunyai anak seorang tunanetra akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kedua orang tua kita. Entah kekhawatiran dalam karir anak mereka nantinya, dan lain sebagainya. Selain kekhawatiran, rasa sayang yang berlebihan juga sering di dapatkan oleh seorang anak yang tunanetra. Sebenarnya, rasa khawatir dan rasa sayang yang diberikan kepada anak itu tidak salah. Namun, menjadi tidak tepat jika kedua rasa itu diberikan secara berlebihan dan dengan cara yang salah. Misal, seorang anak tunanetra yang tidak boleh melakukan aktifitas sehari-hari sendiri. Biasanya, alasan orangtua tidak memperbolehkan adalah lagi-lagi karena ketakutan. Takut terkena api, takut anaknya nanti dibohongi, dan macam-macam alas an lain.

Lalu bagaimana? Sepertinya apa yang saya paparkan di atas sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya sebuah kemandirian dalam menggali potensi yang kita miliki. Lalu, akan kah kita masih tetap mau menjadi orang-orang yang sudah saya gambarkan di atas?

Jawa Timur adalah sebuah provinsi dengan peluang Pendidikan dan pekerjaan yang cukup besar. Khususnya bagi disabilitas netra. namun seperti yang saya paparkan di atas, banyak dari kita yang masih terjebak pada tempurung ketidak mandirian yang akhirnya menghambat kita untuk memiliki sebuah kompetensi dalam bidang tertentu.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak sahabat semua untuk mulai mencoba melakukan sesuatu yang mungkin itu beresiko. Tapi ingat, apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi gambaran siapa kita di waktu yang akan datang! Lebih baik kita berjuang untuk menguasai sebuah kompetensi tertentu daripada kita hanya berimajinasi tanpa aksi!