Tampilkan postingan dengan label Disabilitas Netra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Disabilitas Netra. Tampilkan semua postingan

DPD PERTUNI Jawa Timur telah menyelenggarakan rapat koordinasi (rakor) antar pengurus pada bulan Januari 2022 lalu. Tujuan dari rakor ini adalah merancang program-program kerja selama lima tahun ke depan. Hasilnya, sebanyak 11 program prioritas telah dirumuskan berdasarkan hasil keputusan saat rapat. Salah satu program prioritas adalah Bakti Sosial. Latar belakang dari program ini adalah karena kurang percaya diri dan merasa terdiskriminasi. Sehingga, program ini dirumuskan untuk mensosialisasikan tunanetra terhadap masyarakat umum melalui berbagai kegiatan seperti berbagi takjil saat bulan Ramadhan, ikut berpartisipasi aktif saat peringatan hari-hari besar, dan lain sebagainya.

Berdasarkan surat nomor 009/K/DPD/PERTUNI-JATIM/03-2023 tentang edaran pelaksanaan bakti sosial, PERTUNI Jatim menghimbau agar cabang-cabang PERTUNI di seluruh kabupaten/kota di Jawa Timur untuk melaksanakan bakti sosial selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini memiliki tujuan untuk menjalin interaksi positif dengan masyarakat. Hasilnya, Sebagian besar cabang PERTUNI di kabupaten/kota telah melaksanakan kegiatan bakti sosial. Adapun, cabang-cabang PERTUNI yang melaksanakan bakti sosial adalah sebagai berikut.

Baksos Kota Surabaya

 

 

PERTUNI cabang Kota Surabaya telah melaksanakan bakti sosial selama beberapa hari di sejumlah tempat. Tempat-tempat tersebut meliputi lima wilayah di Surabaya. Lima wilayah tersebut diantaranya Surabaya selatan, Surabaya Timur, Surabaya Pusat, Surabaya Barat, dan Surabaya Utara. Kegiatan ini dilaksanakan pada sore hari saat akan berbuka puasa. Sebanyak 50 paket di setiap wilayah, PERTUNI Kota Surabaya telah membagi-bagikan takjil kepada masyarakat. Jumlah tersebut berasal dari hasil swadaya anggota.

 

Ba        ksos Probolinggo Raya

     

 

PE    RTUNI cabang kabupaten dan kota Probolinggo bekerja sama untuk menyelenggarakan kegiatan bakti sosial. Kegiatan tersebut bertempat di Randu Pangger. Lokasi tersebut merupakan perbatasan antara kabupaten dan kota Probolinggo. Sebanyak 200 paket takjil telah dibagikan terhadap para pengguna jalan yang melewati di daerah tersebut. Selain itu, 40 bungkus kolak dan 2 bungkus cemilan juga didistribusikan kepada para tukang becak yang ada dan tempat ibadah disekitar. Jumlah tersebut merupakan hasil dari iuran para anggota dan donator yang ikut serta dalam mensuksesan kegiatan bakti sosial tersebut.

 

 

Baksos Kabupaten Jember

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Jember telah melaksanakan bakti sosial di sejumlah titik di daerah sekitar pusat kota Jember. Selain itu, PERTUNI Jember juga memperluas wilayah untuk kegiatan ini hingga ke daerah-daerah pinggiran. Kegiatan tersebut berupa bagi-bagi takjil untuk masyarakat sekitar. Di tahun ini, PERTUNI Jember melakukan inofasi yang berbeda dari tahun sebelumnya. Inofasi tersebut berupa membagikan paket-paket takjil hasil dari pembelian di warung-warung kecil dan usaha produksi makanan yang dikelola oleh beberapa anggota PERTUNI Jember. Tujuan dari inofasi ini adalah untuk lebih menghargai dan membantu sesama.

 

 

Baksos Kota Blitar

 

 

 

PERTUNI Kota Blitar telah menyelenggarakan kegiatan bakti sosial di alun-alun kota Blitar. Bakti sosial tersebut berupa bagi-bagi takjil terhadap masyarakat sekitar. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus dan anggota PERTUNI kota Blitar.

 

Baksos Kabupaten Pasuruan

 

 

 

Sabtu, 15 April 2023, PERTUNI cabang Kabupaten Pasuruan telah mengadakan kegiatan bakti sosial berupa membagi-bagikan sebanyak 240 paket takjil kepada pengguna jalan dan masyarakat sekitar masjid Baitul Rokhman, desa Sumberagung kecamatan Grati. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah, dinas sosial kabupaten Pasuruan, donatur dan sponsorship yang turut serta memeriahkan bakti sosial. Dalam kegiatan ini, PERTUNI Kabupaten Pasuruan Berkolaborasi dengan warga desa sekitar untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Selain bagi-bagi takjil, PERTUNI Kabupaten Pasuruan juga mengadakan kegiatan pembagian zakat.

 

Baksos Kabupaten Blitar

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Blitar telah mengadakan bakti sosial berupa bagi-bagi takjil. Kegiatan tersebut bertempat di dusun Papungan desa Papungan kecamatan Kanigoro pada kamis, 6 April 2023. Dalam kegiatan ini, PERTUNI Kabupaten Blitar telah berkolaborasi dengan masyarakat sekitar.

 

Baksos Kabupaten Tulungagung

 

 

 

PERTUNI Kabupaten Tulungagung yang berkolaborasi dengan SLB PGRI Kedungwaru dan masyarakat sekitar telah mengadakan kegiatan bakti sosial berupa bagi takjil. Kegiatan tersebut bertempat di JL. Ngujang, Kedungwaru. Paket-paket takjil tersebut berasal dari swadaya anggota PERTUNI dan para donatur.

 

 

Baksos Kabupaten Jombang

 

 

 

DPC PERTUNI Kabupaten Jombang telah mengadakan bakti sosial pada rabu, 19 April 2023. Kegiatan tersebut bertempat di JL. K.H. Wahid Hasyim, Jombang. Sebanyak 100 paket takjil telah dibagikan kepada para pengguna jalan yang melintas.

 

Baksos Kabupaten Tuban

 

 

 

Rabu, 19 April 2023, PERTUNI Kabupaten Tuban telah mengadakan bakti sosial yang berupa bagi-bagi takjil. Sebanyak 200 paket takjil telah dibagikan kepada pengguna jalan yang melintas disekitar kantor kecamatan Plumpang.

 

Baksos Kabupaten Kediri

 

 

 

Pada sabtu, 8 April 2023, PERTUNI cabang kabupaten Kediri telah mengadakan bakti sosial. Kegiatan ini dilanjutkan dengan buka bersama.

 

 

          

Buka Kesempatan Disabilitas Netra Berkuliah: PERTUNI Jatim Adakan Sosialisasi Seleksi Masuk Perguruan tinggi 2023



DPD PERTUNI Jawa Timur melalui biro pemuda, pelajar dan mahasiswa telah mengadakan sosialisasi jalur seleksi masuk perguruan tinggi tahun 2023 pada sabtu, 1 April 2023. Sosialisasi ini dihadiri oleh beberapa peserta yang mayoritas berstatus pelajar. Para peserta berasal dari anggota PERTUNI cabang di Jawa Timur. Hadir sebagai narasumber dalam sosialisasi ini adalah DR. Aniek Handajani S.Pd, M.Ed, selaku staff kurikulum bidang PKPLK Dinas Pendidikan Jawa Timur dan Layta Dinira S.Si, M.Si, staff ahli Universitas Brawijaya.

Tujuan diadakannya sosialisasi ini adalah untuk memberikan akses informasi bagi para pelajar disabilitas netra yang akan melanjutkan Pendidikan di perguruan tinggi. Sosialisasi ini merupakan bentuk komitmen PERTUNI Jawa Timur untuk membuka kesempatan yang lebih luas agar disabilitas netra dapat berkuliah.

“Kegiatan ini adalah bentuk kepedulian PERTUNI Jawa Timur untuk membangun SDM disabilitas tunanetra yang bermutu. DPD PERTUNI Jawa Timur selalu mendukung disabilitas netra untuk bisa terus melanjutkan Pendidikan ke perguruan tinggi”. Tutur Tommy. Pria yang menjabat sebagai ketua biro pemuda, pelajar dan mahasiswa ini juga berpesan, “Jangan pernah berhenti untuk mengejar Pendidikan. Kalau bisa, tidak hanya sampai sarjana saja. Jika mampu, teruslah tingkatkan Pendidikan sampai ke jenjang tertinggi. Karena kita sebenarnya memiliki banyak peluang untuk mewujudkan akan hal itu”.

Dalam sosialisasi ini, hadir ketua II DPD PERTUNI Jawa Timur, Alfian Andhika Yudistira.

“Terima kasih kami sampaikan kepada para narasumber yang telah bersedia memberikan informasi terhadap anggota-anggota pelajar kami. Semoga kegiatan ini membawa manfaat bagi kita semua”. Ujarnya.

Berdasarkan pendataan yang dilakukanBiro Riset dan Integrasi Data PERTUNI Jawa Timur, jumlah anggota yang masih pelajar dan mahasiswa sejumlah 4,2% dari 1301 anggota di Jawa Timur. Menurut Alfian jumlah tersebut memiliki potensi yang besar apa lagi  dengan jumlah pelajar lulusan SMA atau setara sebanyak 2,9% atau sekitar 290-an siswa.

Berdasarkan data tersebut, Alfian berharap para pelajar disabilitas netra di Jawa Timur lebih semangat lagi dalam menempuh Pendidikan.

“Kami berharap, kemudahan-kemudahan yang ada saat ini hendaknya dimanfaatkan teman-teman untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi negeri atau swasta”. Tutupnya

 

  

Anggota Kehormatan PERTUNI Cabang Jember, Yang Tak Sekedar Hormat-Hormatan saja






18 Februari 2023 PERTUNI Cabang Kabupaten Jember menyelenggarakan Musyawarah Cabang VI. Selain pemilihan Ketua Dewan Pengurus Cabang dan Dewan Pengawas Cabang PERTUNI Jember juga memutuskan memberikan SK Angota Kehormatan kepada 2 orang awas/non disabilitas netra yang telah berdedikasi terhadap PERTUNI Jember.

Drs. Wahyono, M.M, lahir di Solo, 3 Desember 1958. Mulai mengenal disabilitas khususnya netra sejak duduk di bangku kuliah Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa (SGPLBN) Surabaya pada 1981 – 1983. Di masa kuliah beliau pernah membantu kepanitiaan pekan olah raga penyandang cacat yang diadakan oleh BPOC ( Badan Pembina Olahraga Cacat) atau yang sekarang berubah nama menjadi NPC.

Pada tahun 1983 beliau mengajar di SLB-A-B-C Taman Pendidikan dan Asuhan Jember (SLBN Branjangan) sekarang. Tak hanya sekedar mengajar, Wahyono juga menguasai  penggunaan huruf Braille, jendela dunia disabilitas netra yang paling utama saat itu. Bahasa Indonesia, Matematika, kimia, dan fisika, dikuasainya agar muridnya yang disabilitas netra mengenal banyak ilmu pengetahuan.

Di sekolah ini juga Wahyono bertemu dengan belahan jiwa: Sudarti Ningtyas, S.Pd, wanita kelahiran Jombang 16 September 1963 yang juga guru SLB-A-B-C Jember hingga sekarang.

Di tahun 1991, Wahyono diangkat menjadi kepala Sekolah SLB-A TPA (SLBN Branjangan) Jember. Dengan demikian, totallitas Wahyono terhadap siswa dan penyandang disabilitas netra semakin nampak, apa lagi beliau telah mempunyai kewenangan yang memberikan manfaat bagi para siswanya.

29 April 1994 PERTUNI Jember berdiri, dan Wahyono beserta istri menyediakan diri sebagai pendamping (mitra bakti) hingga kini.

Tak hanya soal administrasi, Wahyono juga turut serta dalam menghadiri pelantikan PERTUNI Jember di Surabaya, 29 Mei 1994 silam, mendampingi Jember dalam Muscab Lub 1996 DPD PERTUNI Jatim setelah ketua terpilih Bapak soepardik meninggal, Dan ikut serta menjadi mitra bakti DPD PERTUNI Jatim  dalam MUNAS 1999 di Jakarta.

Sementara itu, sang istri (Sudarti terlibat langsung membantu staf bendahara Pertuni, kesekretariatan, koperasi Pertuni, dan terlibat total dalam berbagai kegiatan PERTUNI lainnya.

Hingga saat ini, baik Wahyono maupun Sudarti tetap eksis berada di tengah teman-teman PERTUNI Jember, baik mendukung secara moral maupun materiyil.

Bagi DPD PERTUNI Jatim, anggota kehormatan memang tak bisa diberikan kepada sembarang orang. Kontribusi positif orang non disabilitas diharapkan utamanya dalam mensosialisasikan keberadaan disabilitas netra dan kompetensinya di masyarakat luas. Dukungan dalam berorganisasi pun menjadi penilaian utama. Anggota kehormatan tak sekedar orang yang punya gelar terhormat, melainkan dedikasi yang luar biasa sehingga kita semua layak menghormatinya dan menjadikannya teladan dalam pergerakan perjuangan berorganisasi untuk disabilitas netra yang lebih baik di daerah masing-masing.

  

Kelak Ku Kan Berjuang UNtuk PERTUNI By: Ahmad Bani Roihan (anggota pemula) DPC PERTUNI Kabupaten Jember PERTUNI, nama ini pertama kali kudengar saat aku duduk dibangku sekolah. Kala itu aku mengira PERTUNI adalah nama salah satu teman yang juga bersekolah atau bahkan alumni. Pertama kali kutahu bahwa PERTUNI aadalah nama organisasi tunanetra saat aku dan teman – teman disekolahku mengikuti kegiatan peringatan HUTRI disekolahku. Dalam kegiatan itu, hadir teman – teman dan kakak – kakak senior yang ternyata mereka sangat luarbiasa. Menurutku, mereka hebat, ada yang bekerja sebagai maseur, berkuliah bahkan beberapa pengurus saat ini menjadi guruku. Aku tak jarang bertanya tentang PERTUNI pada guruku yang merupakan pengurus PERTUNI saat ini. Dari pak guru, aku mendengar berbagai cerita yang membuatku menjadi lebih kenal dunia PERTUNI. Kini aku mengenal lebih dekat PERTUNI. Kutahu sejarahnya, jumlah anggotanya, pengurus di DPC Jember. Dan yang paling mengagumkan PERTUNI juga banyak membantu berbagai kesulitan yang dihadapi para tunanetra di Jember kususnya. Karna di PERTUNI Jember ada beberapa kegiatan yang bisa diikuti misalnya, bagi teman – teman yang belum sekolah, PERTUNI memberikan pengetahuan tentang dunia sekolah baik sekolah formal maupun sekolah non formal. Begitu pun bagi teman – teman yang belum bisa baca tulis braille, dari pengurus akan mengajari mereka baca tulis braille hingga akhirnya mereka bisa baca tulis. Tidak hanya itu, beberapa kesempatan, PERTUNI juga melakukan bakti sosial, pembagian daging kurban, pengadaan alat disabilitas seperti alat tulis dan tongkat, juga pemberian makanan bernutrisi untuk anak – anak sepertiku. Dari semua perjuangan PERTUNI, membuatku menjadi ingin bersama – sama membesarkan dan mengenalkan PERTUNI kesemua orang. Saat ini masih tidak banyak hal yang bisa kulakukan untuk PERTUNIKU, namun aku berusaha sebisa mungkin untuk berpartisipasi dalam kegiatan PERTUNI. Misalnya aku kadang hadir dikegiatan PERTUNI jika kegiatan dilaksanakan dihari libur dan bapak ibu ada waktu longgar untuk temaniku. Aku berharap semoga nanti jika aku sudah besar akan menjadi salah satu pengurus di PERTUNI. Sebagai wujud cinta dan terimakasihku untuk PERTUNI. Dirgahayu PERTUNIKU. Semoga dengan bertambahnya usiamu menjadikanmu lebih maju dan mampu membawa tunanetra lebih maju, trampil, mandiri dan sejahtera. Sebagai wujud cinta dan terimakasih, semoga Allah memberiku kesempatan untuk aku berjuang bersamamu. Karna insya Allah jika kubesar nanti ku kan berjuang untukmu.
My Story With PERTUNI By: Indah Nur Fadilah DPC PERTUNI Kabupaten Pasuruan Kisah ini mulai Aku lalui ketika Aku tengah terlena dengan lingkungan non disabilitas yang sangat mendukungku. Saat itu Aku tengah duduk di bangku SMK atau Sekolah Menengah Kejuruan. Tidak ada bullying, dan diskriminasi. Para guru dan teman-teman sangat mendukung dari segi apapun, meskipun sekolahku saat itu bukanlah tergolong sekolah inklusi, bahkan hanya Aku satu-satunya murid disabilitas disana. Itulah yang membuat Aku terlena hingga jujur Aku tuliskan disini bahwa Aku sempat lupa jika Aku seorang disabilitas. Aku lupa kalau Aku low vision. Ditengah Aku telah terbuai dengan semua itu, Tuhan menyadarkanku dengan cara-Nya yang sungguh tidak pernah ada dalam pikiran. Pada tahun 2020 tepatnya di bulan November, Aku dikenalkan dengan sebuah organisasi yang bernama Persatuan Tuna Netra Indonesia atau masyarakat biasa menyebutnya PERTUNI. Awalnya Aku acuh sekali ketika wakil ketua dan sekretaris didampingi dua mitra bhakti PERTUNI berkunjung ke kediamanku, menjelaskan mengenai PERTUNI, dan mengajakku untuk bergabung menjadi bagian dari mereka, Setelah dijelaskan panjang kali lebar, ibu menyerahkan keputusan apakah Aku mau untuk bergabung atau tidaknya kepadaku, karena ibuku berprinsip akan mendukung kegiatan yang Aku ikuti selagi itu positif dan tidak mengganggu proses belajar di sekolah. Tiga bulan pun berlalu setelah pertemuan yang tidak berujung kepastian itu. Aku tidak menyetujui ataupun menolak ketika waktu itu di tanya, Aku hanya mengatakan, "Aku pikir-pikir dulu ya". Karena saat itu Aku tengah terlena, jadi hanya Aku pikirkan sejenak saja. Di bulan Februari tahun 2021, satu minggu sebelum ulang tahun PERTUNI Kabupaten Pasuruan, Aku menerima telepon dari wakil ketua. Ia mengajakku untuk turut hadir dalam pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali yang selalu diselenggarakan. Lagi dan lagi, Aku tidak memberikan kepastian. Aku hanya mengatakan bahwa Aku ingin meminta izin terlebih dahulu kepada ayah dan ibu, karena ridho dari orangtua itu sangat penting. Jika orangtua ridho, maka Allah pasti akan mengiyakan. Begitu pula sebaliknya. Maka dari itulah, disetiap langkahku, selalu ada do'a dari orangtua sebagai pemandu. Pertemuan rutin setiap tiga bulan sekali DPC PERTUNI Kabupaten Pasuruan di mulai pukul sembilan pagi, dan Aku menghadirinya. Ibuku memberikan izin untuk datang. Kesan pertama ketika Aku menghadirinya sangat menyenangkan. Hatiku seketika dibuat luluh dengan kebersamaan teman-teman disabilitas netra yang penuh dengan ketulusan. Memang benar kata pepatah, "Tak kenal maka tak sayang". Canda tawa tumpah didalam ruang pertemuan, dan ternyata pertemuan PERTUNI pada hari itu begitu istimewa. Bagaimana tidak, keluarga besar PERTUNI tengah merayakan ulang tahun PERTUNI Kabupaten Pasuruan. Perayaan dilakukan dengan begitu hikmatnya. Pemotongan tumpeng, dan kue ulang tahun tak boleh dilewatkan. Antusias saat pembagian doorprize untuk para anggota, mitra bhakti dan tamu undangan membuat suasana menjadi semakin terasa kekeluargaannya.Setelah menghadiri pertemuan PERTUNI yang sangat mengesankan bagiku, Aku telah memutuskan jika Aku bersedia untuk menjadi bagian dari mereka. Dalam pertemuan-pertemuan berikutnya, atau ketika PERTUNI mengikuti kegiatan-kegiatan, Aku tidak jarang ikut hadir, meski terkadang harus menempuh jarak yang dibilang tidak dekat, terkadang sampai harus naik transportasi umum, seperti bus dan sejenisnya. Dari sinilah Aku memperoleh pengetahuan baru, dan pengalaman yang bisa dibilang belum Aku dapatkan sebelumnya. Memang benar, belajar itu tidak harus di sekolah, dimanapun tempat berpijak, jika seseorang bisa memaknai setiap pergerakan di sekitar, maka orang tersebut bisa mendapatkan pengajaran baru. Begitu pula dengan usia, secara perawakan para pengurus dan anggota PERTUNI Kabupaten Pasuruan sebagian bisa dibilang telah keluar dari masa mudanya. Namun tidak dengan tekad dan semangat mereka dalam setiap pertemuan dan kegiatan yang membuatku kehilangan sedikit rasa percaya diri. Menurutku Henry Ford memang benar bahwa, "Seseorang yang berhenti belajar adalah orang lanjut usia, meskipun umurnya masih remaja. Seseorang yang tidak pernah berhenti belajar akan selamanya menjadi pemuda." Lima tahun telah berlalu sejak Musyawarah Cabang atau biasa disingkat MUSCAB pertama yang diselenggarakan oleh DPC PERTUNI Kabupaten Pasuruan. Waktu telah menunjukkan bahwa pengurus yang saat itu tengah menjabat harus beristirahat sejenak. Persiapan mulai dilakukan enam bulan sebelum MUSCAB diselenggarakan. Pembentukan panitia mulai disusun. Proposal mulai dikirimkan. Undangan-undangan mulai diberikan. Beraudiensi dengan Instansi Pemerintah tak mungkin dilupakan, dan masih banyak lagi. Kerikil-kerikil kecil selama persiapan MUSCAB tak mampu dihindari. Itu telah menjadi hal yang bisa dibilang lumrah terjadi. Dibalik itu semua, Aku mendapatkan begitu banyak pembelajaran baru dalam hal administrasi. Aku diajarkan membuat proposal, surat menyurat, membuat undangan, dan yang berhubungan dengan mengetik lainnya. Semua itu Aku lakukan bersama penanggung jawab dan ketua pelaksana. Hari bersejarah semakin dekat yang harus dikerjakan pun semakin banyak. Huruf-huruf di layar yang menyala menyeru ingin segera dirampungkan, membuatku harus tidur larut malam. Notifikasi yang terus menyerukan pekerjaan baru tak henti-hentinya membuat telepon genggam terus berkedip, hingga terkadang Aku mengabaikan teriakan manja penghuni di dalam perut yang tidak bisa diajak bekerja sama. Sabtu, 27 Agustus 2022 pelaksanaan Musyawarah Cabang dilaksanakan dengan penuh kegembiraan. Kehadiran Bupati Pasuruan beserta segenap para tamu undangan menjadi kehormatan tersendiri. Ketegangan terlihat dari para pengurus, calon Ketua, dan Dewan Pengawas Cabang (Dewascab). MUSCAB selesai ketika Ketua sekaligus Dewascab baru telah dilantik. Menyaksikan MUSCAB yang berjalan dengan tanpa adanya hambatan membuat lelah selama enam bulan terbayarkan. Kepengurusan baru mulai dibentuk setelah ditetapkannya Ketua dan Dewascab untuk periode berikutnya. Kegiatan-kegiatan kembali mulai diikuti. Mulai dari Rakerda, Seminar hingga Sosialisasi Pengawasan Pemilu Partisipatif dengan Stakeholder. Aku ingat sekali ketika itu Aku harus pulang pergi Sidoarjo Pasuruan. Demi menagih janji-janji kehidupan di masa depan, Aku harus meninggalkan tempat kelahiran. Di pagi yang dibilang cukup bersahabat dengan penghuni bumi untuk beraktivitas, Aku pergi menuju stasiun, dan Aku pastinya tidak sendirian. Selain ada Allah yang selalu membersamai, ada juga pengemudi ojek online yang setia menemani di setiap perjalanan. Apalagi saat didalam kereta, tidak sedikit penumpang yang menjadi teman untuk sementara hingga kereta tiba di stasiun tujuan. Di setiap Aku menginjakkan tempat baru yang di situ Aku hanya mengenal Allah, Aku selalu mengingat dan berpegang teguh dengan yang telah disampaikan oleh seorang guru ketika hari pertamaku berstatus peserta didik baru di SMK, beliau berkata, "jika kamu baik, dimanapun kamu berada, kamu akan dipertemukan dengan orang-orang yang baik pula." Itulah sebuah kalimat sakti yang membuat Aku berani hingga hari ini. Kegiatan dilaksanakan pukul 12 siang. Sebelum itu Aku menyempatkan untuk singgah sekaligus silaturahmi ke rumah bibiku. Aku pernah mendengar salah satu hadist yang disampaikan oleh ustadz dalam sebuah kajian. Hadist tersebut berbunyi, "Tidak akan masuk surga orang yang memutus (silaturahmi)." (HR Bukhari dan Muslim). Jadi karena Aku nanti ingin segera masuk surga dan jarum jam masih berada di angka 9 tidak ada salahnya untuk berkunjung. Semua orang telah hadir ketika Aku tiba di lokasi kegiatan. Seluruh peserta dan mitra bhakti sangat antusias dalam sosialisasi tersebut. Ada yang mendengarkan dengan penuh keseriusan, ada yang mencatat, dan bertanya. Tidak terasa, 2 jam berlalu begitu cepatnya. Rangkaian acara telah sampai pada sesi foto bersama. Tangan-tangan mulai diulurkan pertanda perpisahan segera dilakukan. Hujan di sore hari turun saat Aku tengah menempuh perjalanan pulang menuju rumah bibiku. Aku kembali singgah sebelum nanti keretaku tiba pada pukul 7 malam. Aku memutuskan untuk kembali di hari yang sama ke tempatku menimbah ilmu, karena Aku sudah bukan kali pertama izin keluar asrama. Satu minggu sebelum kegiatan itu diselenggarakan Aku juga telah izin untuk mengikuti Rakerda(Rapat Kerja Daerah). Tiga hari mengikuti Rakerda lebih dari sekedar biasa. Saling berbagi pengetahuan, pendapat, dan pengalaman menambah kegiatan Rakerda semakin berwarna. Sungguh ketika sampai pada penutupan rasanya tak ingin untuk kembali pulang. Inilah secuil dari kisahku dengan PERTUNI. Kalau dibilang kontribusi, maaf, jariku masih belum mampu untuk mengetiknya. PERTUNI, terimakasih telah menyadarkanku. Terimakasih telah memberikan begitu banyak pengajaran baru. Maaf jika Aku sempat mengabaikanmu dulu. Semoga engkau bisa memaafkan dan bersedia menjadi tempat untukku terus belajar.

Tingkatkan Literasi Tunanetra Di Jatim, PERTUNI Adakan Lomba Menulis Non-Fiksi



DPD PERTUNI Jawa Timur telah menyelenggarakan lomba menulis non-fiksi dalam rangka memperingati HUT PERTUNI yang ke 57. Lomba ini dilaksanakan sejak tanggal 13-26 Januari 2023. Panitia lomba telah mengumumkan para pemenang lomba menulis non.fiksi. Acara ini dilaksanakan melalui zoom pada jumat, 3 Februari 2023, pukul: 19.30wib. Dari 18 peserta, diambil 6 peserta terbaik untuk dapat memenangkan perlombaan ini. Lomba ini diikuti oleh beberapa cabang PERTUNI di kabupaten/kota di Jawa Timur. Diantaranya: Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Jember, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Pasuruan. Harapan dari diselenggarakanya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi setiap anggota di seluruh cabang PERTUNI di Jawa Timur. Seperti yang telah disampaikan oleh ketua DPD PERTUNI Jawa Timur, Setiawan Gema Budi S.Pd, M.Pd pada sambutanya.
"Semoga, teman-teman lebih semangat lagi dalam berkarya. Karena, hal itu merupakan salah satu bentuk sosialisasi kita terhadap masyarakat luas".

Berikut ini merupakan daftar nama pemenang lomba menulis non-fiksi.

Peserta juara kategori pemula:
Juara 1: Ahmad Bani Roihan. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jember
Juara 2: Robby Fitraza Mikail Wijaya. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jember
Penulis Faforit: Ahmad Asmaul Maskuri. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jombang

Peserta juara kategori anggota biasa/mitra bhakti
Juara 1: Indah Nur Fadilah. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Pasuruan
Juara 2: Adi Prianto. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Gresik
Penulis faforit: Tuminingsih. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Tuban



MELALUI PERATURAN ORGANISASI, PERTUNI JATIM CIPTAKAN ORGANISASI YANG BERDAYA SAING

    Dewan Pengawas Daerah (DEWASDA) PERTUNI Jawa Timur telah mensosialisasikan peraturan organisasi dalam kegiatan rapat kerja daerah yang telah dilaksanakan pada tanggal 25-27 November 2022 di UPT Bimasakti, Kota Batu. Peraturan organisasi ini merupakan ringkasan dari Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (ADART) yang disesuaikan dengan kondisi di Jawa Timur, dan juga lebih disederhanakan tanpa melanggar ADART. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para anggota PERTUNI Jawa Timur dalam memahami manajemen organisasi. Peraturan organisasi yang disingkat menjadi "PO" ini berisikan petunjuk-petunjuk untuk cabang-cabang PERTUNI di Jawa Timur untuk melaksanakan organisasi di daerah masing-masing.  Menurut Rachman Hadi, selaku ketua DEWASDA PERTUNI Jawa Timur, harapan dari perumusan PO ini agar para anggota tidak usah membuka ADART karena sudah terangkum semua disitu. "Dalam PO ini juga diarahkan bagaimana jika ketua cabang tidak melaksanakan tugas dengan baik, tindakan apa yang harus dilakukan jika terjadi MUSCABLUB (Musyawarah Cabang Luar Biasa), dan lain-lain". Imbuhnya 


BRAILLE VERSUS TEKNOLOGI, AKANKAH BRAILLE MUSNAH DAN TERGANTI?


By: Rachman Hadi




4 Januari 1809, di desa Couvre, Paris, Prancis, lahir bayi laki-laki kecil yang diberi nama “Louwis Braille”. Kelak, bayi kecil ini menjadi terkenal dan harum namanya, karena perjuangan dan karya besarnya menciptakan huruf Braille, huruf bagi disabilitas netra, yang dipakai sepanjang masa.

Tidak bisa diingkari, hadirnya huruf Braille, telah membawa banyak disabilitas netra mengenal banyak hal. Dari membaca, berhitung, bermain musik, membaca Al-Qur’an, dan berbagai referensi buku lainnya. Pendek kata, Braille telah menjadi jendela bagi disabilitas netra untuk mengenal dunia.

Sayang, dengan hadirnya teknologi yang mampu memberi banyak kemudahan bagi disabilitas netra, perlahan namun pasti kehadiran huruf Braille sedikit-demi sedikit tergeser. Di sisi lain, huruf Braille memang mempunyai beberapa kelemahan yang membuat disabilitas netra enggan menggunakan huruf Braille. Diantaranya:

1.       Huruf Braille tidak bisa diperkecil, bentuknya standart. Ini berdampak jika kita ingin mencetak atau membaca buku Braille dengan banyak halaman, membuat buku Braille menjadi lebih tebal, dan bahkan bisa berjilid-jilid.

2.       Biaya cetak Braille yang mahal. Harus diakui, bahwa biaya cetak huruf atau buku-buku Braille mahal, dibanding huruf awas (huruf untuk umum). Di samping itu, alat pencetak (printer Braille) juga mahal dan langka.

3.       Dan tentu ada kelemahan lainnya.

Sementara, teknologi yang hadir di tengah disabilitas netra, banyak sekali memberikan kemudahan. Contoh:

1.       Buku Braille yang tebal bisa digantikan oleh buku bicara, atau sistem aplikasi pembaca layar yang membacakan baik file pdf, atau txt. Sehingga dinilai lebih praktis dan ringkas, tidak memerlukan banyak tempat, dan sebagainya.

2.       Dengan teknologi, disabilitas netra yang tidak bisa baca-tulis pun bisa berkomunikasi dengan menggunakan teks, dengan cara mengaktifkan google voice. Aplikasi yang mengubah suara pemakainya menjadi teks.)

3.       Dan banyak lagi kelebihan lain.

Di samping kelebihan, ternyata teknologi canggih ini, bukan berarti tak punya sisi lemahnya. Kelemahan teknologi itu di antaranya:

1.       Tidak semua disabilitas netra mampu mengakses teknologi yang sekarang ada. Baik karena kemampuan ekonomi, SDM, dan sebagainya.

2.       Teknologi yang sekarang pun banyak bergantung pada sinyal. Jika sinyal baik, maka akan lancar, namun jika sinyal mengalami gangguan, penggunaan teknologi juga mengalami gangguan.

3.       Teknologi screen reader (pembaca layer) akan terganggu dan sulit dipakai, jika kita berada dalam suasana sekeliling yang riuh dan ramai, karena suara screen reader tertutup oleh suara gaduh di sekitar kita.

4.       Dan banyak lagi lainnya.

Di sisi lain, harus diakui juga, kehadiran Braille pun mengajarkan banyak hal. Dan justru menunjang kemampuan disabilitas netra dalam menggunakan teknologi. Di antaranya:

1.       Disabilitas netra yang pernah belajar Braille, akan mudah dalam memahami kerapian dan cara menulis yang benar, saat dia harus menyusun karya tulis ilmiah, tabel, dan sebagainya, karena mereka telah memperoleh gambaran sebelumnya dalam huruf Braille.

2.       Kemampuan Braille yang dimiliki para disabilitas netra akan  lebih mudah jika diterapkan di teknologi yang juga dikuasai. Karena bagai manapun, dalam tata tulis, baik baku atau pun non baku, meski diperhatikan pemakaian tanda baca, spasi, dan hal-hal lain, sehingga dapat meminimalisir kesalah pahaman penerima pesan.

3.       Sebagaimana dibahas di atas, bahwa mereka yang kurang mampu atau tidak bisa sama sekali baca tulis, masih bisa mengirim pesan teks dengan menggunakan google. Namun maaf, bukan bermaksud mencela atau menggurui, kebanyakan mereka yang menggunakan google voice tidak disertakan tanda-tanda baca seperti titik, koma, dan sebagainya, sehingga kadang kita perlu berpikir dalam memahami pesannya. Demikian juga mereka yang bisa menulis di HP, dan belum bisa belajar baca tulis yang benar, terjadi hal yang sama.

Lalu pertanyaannya, manakah yang tepat dan harus dipertahankan:
Braille atau teknologi?

Braille dan teknologi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dua hal ini sama-sama dibutuhkan oleh disabilitas netra, ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Disabilitas netra harus menguasai teknologi untuk mengejar kemajuan zaman dan kelanjaran komunikasi sertakeperluan lainnya seperti kuliah, belajar, bekerja, bisnis dan usaha, dan sebagainya. Namun disabilitas netra hendaknya juga jangan meninggalkan huruf Braille, karena memang kehadirannya tak mungkin bisa tergeser. Misal bagi umat Islam perlu membaca Al-Qur’an bukan? Nah, membaca tentu beda dengan mendengarkan. Baik dcara maupun pahala yang didapat. Hadirnya Louwis Braille sebagai pencetus huruf Braille, adalah skenario Allah agar para disabilitas netra pun merasakan nikmatnya membaca Al-qur’an sebagaimana dirasakan oleh teman-teman awas lainnya.

Di sisi lain, jika kita bepergian di tempat fasilitas umum, terkadang telah dilengkapi dengan sarana huruf Braille, misal saat menggunakan lift, ada tanda Braille untuk naik dan turun, serta tujuan lantai berapa yang kita inginkan pada tombol lift tersebut. Nah, bukankah tempat dan fasilitas umum yang aksesibel adalah keinginan kita bersama? Namun di saat itu semua coba dipenuhi, kita justru mengabaikannya.

Huruf Braille juga bisa dipergunakan untuk menandai atau memberi labeling obat-obatan di rumah atau hal-hal lainnya, sehingga kita tidak banyak tergantung pada orang lain. Bukankah hidup mandiri, akses, dan tidak didiskriminasi kita juga yang menginginkan? Namun di saat semua sudah mulai sadar dan membuka akses, kita juga yang mengabaikan. Ibarat kata: “Kita yang berjanji, kita pula yang mengingkari”

Saudaraku disabilitas netra, ini saya tulis bukan untuk menggurui atau mendiskreditkan fihak lain, melainkan mengingatkan kita bersama, bahwa Braille dan teknologi adalah hal yang saling menunjang dan tidak bisa dipisahkan. Saya juga berharap, jangan tertipu dengan propaganda yang salah, selama ini ada pendapat: “Disabilitas netra sudah tidak perlu lagi Braille, karena sudah tergantikan teknologi.” Jelas hal ini salah. Seolah ini menutup satu akses bagi kita. Menguasai teknologi itu harus, namun meninggalkan Braille adalah sebuah keniscayaan dan hal yang sia-sia. Karena ada hal yang tidak bisa tergantikan teknologi, dan itu suatu kewajiban, dan pada hal-hal tertentu pula Braille hadir melengkapi kehidupan kita.

Semoga di momentum peringatan hhari Braille ini, tumbuhkan kesadaran kita, bahwa tidak semua bisa digantikan teknologi. Jika orang awas masih memerlukan bolpoin untuk menulis sesuatu, demikian juga dengan kita, Braille hadir akan melengkapi kebutuhan kita.

Selamat memperingati hari Braille, sukses, maju , dan sejahtera disabilitas netra Indonesia, khususnya disabilitas Netra di Jawa Timur.

                                                                                                                              

Dalam sebuah organisasi diperlukan keahlian untuk mengelola keuangan yang dapat memperlancar kinerja di organisasi tersebut. Penanggung jawab dalam hal ini adalah bendahara. Oleh karena itu, bendahara perlu menguasai strategi untuk mengelola aktifitas keuangan. Untuk mewujudkan ketertiban dalam pengelolaan finansial, PERTUNI Jawa Timur mengadakan kegiatan sharing seputar pengelolaan finansial dalam acara rakerda yang dilaksanakan pada 25-27 November 2022 lalu. Materi ini dibawakan oleh tim bendahara PERTUNI Jawa Timur. Dalam materi ini dijelaskan mengenai bagaimana cara menulis income yang benar, struktur kepenulisan tentang debit-kredit, dan juga menggunakan Microsoft excel sebagai media untuk mengatur aktifitas keuangan dengan rapi. Para peserta sangat antusias saat pemaparan materi berlangsung.

Menurut Mahmuda, peserta asal DPC PERTUNI Kabupaten Tuban, materi ini cukup bagus. “Dengan adanya kemampuan mengelola keuangan itu menjadi lebih bisa menyesuaikan. Terus kedepannya kalau punya rencana itu biar uangnya nggak cepat habis. Nggak boros”. 

“Dalam organisasi, catatan keuangan itu sangat penting. Karena nanti kita harus melaporkan keuangan ini kepada anggota. Terutama disaat musyawarah cabang (pemilihan ketua baru di periode selanjutnya). Laporan tersebut bisa dilakukan setiap tiga bulan sekali atau satu semester juga bisa”. Ujar Dewi Sekar, ketua bendahara PERTUNI Jawa Timur sekaligus pemateri dalam manajemen keuangan. 

Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) Jawa Timur, mengadakan Rapat Kerja Daerah pada 25 – 27 November 2022, yang difasilitasi oleh Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur, di Unit Pelaksana Teknis Panti Sosial Petirahan Anak Bima Sakti Kota Batu. Diikuti oleh 28 Dewan Pengurus Cabang Pertuni di Jawa Timur, agenda ini ditujukan untuk melakukan sinkrunisasi program antara Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pertuni Jawa Timur dengan DPC Pertuni se Jawa Timur.

     “Dalam Rakerda kali ini, kami telah berdiskusi sehingga menghasilkan 11 program berdasarkan permasalahan yang muncul di daerah-daerah yang kami temukan. Yang kemudian kami, DPD dan seluruh pengurus atau perwakilan dari para DPC akan mandatangani nota kesepahaman” papar Alfian Andhika, Yudistira, Ketua 2 Pertuni Jawa Timur yang dalam agenda kali ini bertindak selaku Humas Rapet Kerja Daerah Persatuan Indonesia Jawa Timur.

     Dalam agenda kali ini, selain dihadiri oleh Dewan Pengurus dan Dewan Pengawas Pertuni se Jawa Timur, Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Pertuni Jatim tahun ini juga diikuti oleh perwakilan dari unsur perempuan dan kader potensial.

     “Terkait unsur kader potensial, kami ingin memunculkan kader-kader calon pemimpin yang dapat bekerjasama dengan anggota yang lain untuk berkontribusi bagi kemajuan tunanetra khususnya di Jawa Timur” jelasnya.

     Selain itu, Rizal Kurniawan, selaku Ketua Biro Humas Pertuni Jawa Timur mengemukakan bahwa event Rakerda diharapkan mampu mendorong optimalisasi kompetensi dari para insan disabilitas netra di Jawa Timur, sehingga melahirkan bibit-bibit baru insan tunanetra yang kreatif, inovatif, dan berjiwa pemimpin. 


Masa kini setiap orang berlomba-lomba untuk menempatkan diri pada tempat yang dianggap dapat membawa dirinya ke fase kehidupan yang lebih baik dan menguntungkan. Baik itu dalam Pendidikan, pekerjaan, dan status social di dalam masyarakat. Hal ini berlaku pula bagi seseorang yang memiliki anugrah berupa kedisabilitasan atau memiliki perbedaan pada fisik atau pun mental.

Sejatinya menjadi disabilitas adalah ladang untuk kita menggali potensi dan memantapkan kompetensi. Namun yang sering terjadi seorang disabilitas malah terkungkung dengan tempurung ketidak mandirian sehingga potensi-potensi yang harusnya bisa dimiliki hanya menjadi keinginan diri tanpa pernah terwujud. Menurut saya, kasus ini terjadi juga pada disabilitas netra di Jawa Timur. Factor tempurung ketidak mandirian itu dapat bermacam-macam.

Dari factor internal : terbiasa di tolong dan diberikan sesuatu terkadang membuat kita lalai bahwa sebagai manusia kita juga punya kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, sehingga kita akan menjadi pemalas dengan sejuta bayangan keberhasilan yang tak pernah terwujud. Selain itu, kemauan menjadi mandiri terkadang tidak ada pada diri kita meskipun diluar sana kita tahu banyak teman-teman yang sudah berhasil keluar dari tempurung yang sedang membuat kita terkungkung. Biasanya, ini terjadi karena beberapa alas an yang kita buat sendiri. Alas an yang paling sering muncul adalah ketakutan. Entah takut dimarahi orang tua, takut menjadi korban kejahatan, takut jatuh, dan lain sebagainya.

Ya, memang ketakutan-ketakutan itu mungkin akan kita alami. Tapi, coba kita nilai dari sudut pandang yang positif, sesuatu yang buruk yang kita alami akan membuat kita menjadi tangguh di lain waktu bukan?

Yang berikutnya adalah factor eksternal. Ini biasanya terjadi pada lingkungan keluarga. Tidak bisa dipungkiri mempunyai anak seorang tunanetra akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kedua orang tua kita. Entah kekhawatiran dalam karir anak mereka nantinya, dan lain sebagainya. Selain kekhawatiran, rasa sayang yang berlebihan juga sering di dapatkan oleh seorang anak yang tunanetra. Sebenarnya, rasa khawatir dan rasa sayang yang diberikan kepada anak itu tidak salah. Namun, menjadi tidak tepat jika kedua rasa itu diberikan secara berlebihan dan dengan cara yang salah. Misal, seorang anak tunanetra yang tidak boleh melakukan aktifitas sehari-hari sendiri. Biasanya, alasan orangtua tidak memperbolehkan adalah lagi-lagi karena ketakutan. Takut terkena api, takut anaknya nanti dibohongi, dan macam-macam alas an lain.

Lalu bagaimana? Sepertinya apa yang saya paparkan di atas sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya sebuah kemandirian dalam menggali potensi yang kita miliki. Lalu, akan kah kita masih tetap mau menjadi orang-orang yang sudah saya gambarkan di atas?

Jawa Timur adalah sebuah provinsi dengan peluang Pendidikan dan pekerjaan yang cukup besar. Khususnya bagi disabilitas netra. namun seperti yang saya paparkan di atas, banyak dari kita yang masih terjebak pada tempurung ketidak mandirian yang akhirnya menghambat kita untuk memiliki sebuah kompetensi dalam bidang tertentu.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak sahabat semua untuk mulai mencoba melakukan sesuatu yang mungkin itu beresiko. Tapi ingat, apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi gambaran siapa kita di waktu yang akan datang! Lebih baik kita berjuang untuk menguasai sebuah kompetensi tertentu daripada kita hanya berimajinasi tanpa aksi!