Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Tingkatkan Literasi Tunanetra Di Jatim, PERTUNI Adakan Lomba Menulis Non-Fiksi



DPD PERTUNI Jawa Timur telah menyelenggarakan lomba menulis non-fiksi dalam rangka memperingati HUT PERTUNI yang ke 57. Lomba ini dilaksanakan sejak tanggal 13-26 Januari 2023. Panitia lomba telah mengumumkan para pemenang lomba menulis non.fiksi. Acara ini dilaksanakan melalui zoom pada jumat, 3 Februari 2023, pukul: 19.30wib. Dari 18 peserta, diambil 6 peserta terbaik untuk dapat memenangkan perlombaan ini. Lomba ini diikuti oleh beberapa cabang PERTUNI di kabupaten/kota di Jawa Timur. Diantaranya: Kabupaten Gresik, Kabupaten Jombang, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Jember, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Tuban, dan Kabupaten Pasuruan. Harapan dari diselenggarakanya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan literasi setiap anggota di seluruh cabang PERTUNI di Jawa Timur. Seperti yang telah disampaikan oleh ketua DPD PERTUNI Jawa Timur, Setiawan Gema Budi S.Pd, M.Pd pada sambutanya.
"Semoga, teman-teman lebih semangat lagi dalam berkarya. Karena, hal itu merupakan salah satu bentuk sosialisasi kita terhadap masyarakat luas".

Berikut ini merupakan daftar nama pemenang lomba menulis non-fiksi.

Peserta juara kategori pemula:
Juara 1: Ahmad Bani Roihan. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jember
Juara 2: Robby Fitraza Mikail Wijaya. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jember
Penulis Faforit: Ahmad Asmaul Maskuri. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Jombang

Peserta juara kategori anggota biasa/mitra bhakti
Juara 1: Indah Nur Fadilah. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Pasuruan
Juara 2: Adi Prianto. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Gresik
Penulis faforit: Tuminingsih. Asal DPC: DPC PERTUNI Kabupaten Tuban

Kamis, 26 Januari 2023, DPD PERTUNI Jawa Timur mendapat kesempatan bincang-bincang pagi di Radio RRI Pro II Surabaya dalam program SPADA (Selamat Pagi Teman Pro 2) yang di pandu oleh Erella. Bergabung secara virtual Gema selaku Ketua Daerah , Alfian selaku Ketua II, dan Rachman selaku Ketua Dewasda PERTUNI Jawa Timur.

Di peringatan 57 hari ulang tahun PERTUNI ke-57, Rachman mengungkapkan perjuangan teman-teman disabilitas netra dalam memperoleh akses pendidikan tidaklah muda. Banyak yang telah diupayakan dan dikorbankan agar pendidikan di Indonesia lebih baik untuk semua kalangan. Di Jawa Timur sendiri berbagai sekolah Negeri dan Swasta sudah menerima siswa dengan disabilitas, namun ini hanya terjadi di kota-kota besar saja. Di daerah-daerah perjuangan ini masih perlu diperkuat lagi. 

Gema menambahkan, proses perjuangan itu juga terhambat lantaran banyak disabilitas netra yang memilih tetap berada di zona nyamannya dengan bersekolah di SLB atau mengikuti kakak kelasnya di sekolah-sekolah yang sudah pernah menerima disabilitas netra. Hal ini menyebabkan sebaran disabilitas netra yang bersekolah di sekolah regular sangat minim. Alfian mengatakan dari pendataan yang dilakukan DPD PERTUNI Jawa Timur April-Juni 2022, tercatat 16,9% dari 1301 total anggota PERTUNI di Jawa Timur tidak bersekolah atau tidak lulus SD. Selain itu yang saat itu menjadi pelajar dan mahasiswa hanya 4.2%. pendataan yang dilakukan juga mencatat disabilitas netra yang lulus S1/setara sejumlah 5,6%. Hal ini berdampak pada sulitnya mereka mengakses dunia kerja karena persyaratan yang dibebankan kepada calon pekerja lebih banyak pada syarat pendidikan.

Dalam bincang pagi yang berlangsung serius namun santai, Gema juga menjelaskan bahwa kemandirian, keterampilan, dan tekat yang kuat sangat diperlukan dalam mengakses dunia pendidikan yang inklusif serta dunia kerja yang menuntut semua orang harus produktif. Rachman berpesan, sudah saatnya disabilitas netra sekarang lebih melek teknologi, lebih berani melangkah, serta lebih mau membuka diri kepada sesama.

Untuk itu, Alfian menyatakan ke depan DPD PERTUNI Jawa Timur akan mengupayakan untuk mengadakan program-program yang membuka wawasan bagi anggota, serta menambah keterampilan mereka dengan 11 program prioritas yang dimiliki yaitu: Bakti Sosial untuk masyarakat non disabilitas yang membutuhkan, kunjung tetangga dengan masyarakat sekitar, peningkatan wawasan kepemiluan, kesehatan reproduksi dan kemandirian dalam beraktifitas sehari-hari, serta peningkatan kualitas kepemimpinan individu disabilitas netra agar dapat meningkatkan kaderisasi dalam organisasi.

DPD PERTUNI Jawa Timur berharap kontribusi positif ini juga dapat diikuti oleh PERTUNI cabang se-Jawa Timur sesuai dengan kesepakatan yang telah dilakukan dalam Rapat Koordinasi Disabilitas Sensorik (Netra) / Rapat Kerja DPD PERTUNI Jawa Timur yang telah dilakukan Desember 2022 yang bekerja sama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Sosial Probinsi Jawa Timur. 


BRAILLE VERSUS TEKNOLOGI, AKANKAH BRAILLE MUSNAH DAN TERGANTI?


By: Rachman Hadi




4 Januari 1809, di desa Couvre, Paris, Prancis, lahir bayi laki-laki kecil yang diberi nama “Louwis Braille”. Kelak, bayi kecil ini menjadi terkenal dan harum namanya, karena perjuangan dan karya besarnya menciptakan huruf Braille, huruf bagi disabilitas netra, yang dipakai sepanjang masa.

Tidak bisa diingkari, hadirnya huruf Braille, telah membawa banyak disabilitas netra mengenal banyak hal. Dari membaca, berhitung, bermain musik, membaca Al-Qur’an, dan berbagai referensi buku lainnya. Pendek kata, Braille telah menjadi jendela bagi disabilitas netra untuk mengenal dunia.

Sayang, dengan hadirnya teknologi yang mampu memberi banyak kemudahan bagi disabilitas netra, perlahan namun pasti kehadiran huruf Braille sedikit-demi sedikit tergeser. Di sisi lain, huruf Braille memang mempunyai beberapa kelemahan yang membuat disabilitas netra enggan menggunakan huruf Braille. Diantaranya:

1.       Huruf Braille tidak bisa diperkecil, bentuknya standart. Ini berdampak jika kita ingin mencetak atau membaca buku Braille dengan banyak halaman, membuat buku Braille menjadi lebih tebal, dan bahkan bisa berjilid-jilid.

2.       Biaya cetak Braille yang mahal. Harus diakui, bahwa biaya cetak huruf atau buku-buku Braille mahal, dibanding huruf awas (huruf untuk umum). Di samping itu, alat pencetak (printer Braille) juga mahal dan langka.

3.       Dan tentu ada kelemahan lainnya.

Sementara, teknologi yang hadir di tengah disabilitas netra, banyak sekali memberikan kemudahan. Contoh:

1.       Buku Braille yang tebal bisa digantikan oleh buku bicara, atau sistem aplikasi pembaca layar yang membacakan baik file pdf, atau txt. Sehingga dinilai lebih praktis dan ringkas, tidak memerlukan banyak tempat, dan sebagainya.

2.       Dengan teknologi, disabilitas netra yang tidak bisa baca-tulis pun bisa berkomunikasi dengan menggunakan teks, dengan cara mengaktifkan google voice. Aplikasi yang mengubah suara pemakainya menjadi teks.)

3.       Dan banyak lagi kelebihan lain.

Di samping kelebihan, ternyata teknologi canggih ini, bukan berarti tak punya sisi lemahnya. Kelemahan teknologi itu di antaranya:

1.       Tidak semua disabilitas netra mampu mengakses teknologi yang sekarang ada. Baik karena kemampuan ekonomi, SDM, dan sebagainya.

2.       Teknologi yang sekarang pun banyak bergantung pada sinyal. Jika sinyal baik, maka akan lancar, namun jika sinyal mengalami gangguan, penggunaan teknologi juga mengalami gangguan.

3.       Teknologi screen reader (pembaca layer) akan terganggu dan sulit dipakai, jika kita berada dalam suasana sekeliling yang riuh dan ramai, karena suara screen reader tertutup oleh suara gaduh di sekitar kita.

4.       Dan banyak lagi lainnya.

Di sisi lain, harus diakui juga, kehadiran Braille pun mengajarkan banyak hal. Dan justru menunjang kemampuan disabilitas netra dalam menggunakan teknologi. Di antaranya:

1.       Disabilitas netra yang pernah belajar Braille, akan mudah dalam memahami kerapian dan cara menulis yang benar, saat dia harus menyusun karya tulis ilmiah, tabel, dan sebagainya, karena mereka telah memperoleh gambaran sebelumnya dalam huruf Braille.

2.       Kemampuan Braille yang dimiliki para disabilitas netra akan  lebih mudah jika diterapkan di teknologi yang juga dikuasai. Karena bagai manapun, dalam tata tulis, baik baku atau pun non baku, meski diperhatikan pemakaian tanda baca, spasi, dan hal-hal lain, sehingga dapat meminimalisir kesalah pahaman penerima pesan.

3.       Sebagaimana dibahas di atas, bahwa mereka yang kurang mampu atau tidak bisa sama sekali baca tulis, masih bisa mengirim pesan teks dengan menggunakan google. Namun maaf, bukan bermaksud mencela atau menggurui, kebanyakan mereka yang menggunakan google voice tidak disertakan tanda-tanda baca seperti titik, koma, dan sebagainya, sehingga kadang kita perlu berpikir dalam memahami pesannya. Demikian juga mereka yang bisa menulis di HP, dan belum bisa belajar baca tulis yang benar, terjadi hal yang sama.

Lalu pertanyaannya, manakah yang tepat dan harus dipertahankan:
Braille atau teknologi?

Braille dan teknologi adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Dua hal ini sama-sama dibutuhkan oleh disabilitas netra, ibarat dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Disabilitas netra harus menguasai teknologi untuk mengejar kemajuan zaman dan kelanjaran komunikasi sertakeperluan lainnya seperti kuliah, belajar, bekerja, bisnis dan usaha, dan sebagainya. Namun disabilitas netra hendaknya juga jangan meninggalkan huruf Braille, karena memang kehadirannya tak mungkin bisa tergeser. Misal bagi umat Islam perlu membaca Al-Qur’an bukan? Nah, membaca tentu beda dengan mendengarkan. Baik dcara maupun pahala yang didapat. Hadirnya Louwis Braille sebagai pencetus huruf Braille, adalah skenario Allah agar para disabilitas netra pun merasakan nikmatnya membaca Al-qur’an sebagaimana dirasakan oleh teman-teman awas lainnya.

Di sisi lain, jika kita bepergian di tempat fasilitas umum, terkadang telah dilengkapi dengan sarana huruf Braille, misal saat menggunakan lift, ada tanda Braille untuk naik dan turun, serta tujuan lantai berapa yang kita inginkan pada tombol lift tersebut. Nah, bukankah tempat dan fasilitas umum yang aksesibel adalah keinginan kita bersama? Namun di saat itu semua coba dipenuhi, kita justru mengabaikannya.

Huruf Braille juga bisa dipergunakan untuk menandai atau memberi labeling obat-obatan di rumah atau hal-hal lainnya, sehingga kita tidak banyak tergantung pada orang lain. Bukankah hidup mandiri, akses, dan tidak didiskriminasi kita juga yang menginginkan? Namun di saat semua sudah mulai sadar dan membuka akses, kita juga yang mengabaikan. Ibarat kata: “Kita yang berjanji, kita pula yang mengingkari”

Saudaraku disabilitas netra, ini saya tulis bukan untuk menggurui atau mendiskreditkan fihak lain, melainkan mengingatkan kita bersama, bahwa Braille dan teknologi adalah hal yang saling menunjang dan tidak bisa dipisahkan. Saya juga berharap, jangan tertipu dengan propaganda yang salah, selama ini ada pendapat: “Disabilitas netra sudah tidak perlu lagi Braille, karena sudah tergantikan teknologi.” Jelas hal ini salah. Seolah ini menutup satu akses bagi kita. Menguasai teknologi itu harus, namun meninggalkan Braille adalah sebuah keniscayaan dan hal yang sia-sia. Karena ada hal yang tidak bisa tergantikan teknologi, dan itu suatu kewajiban, dan pada hal-hal tertentu pula Braille hadir melengkapi kehidupan kita.

Semoga di momentum peringatan hhari Braille ini, tumbuhkan kesadaran kita, bahwa tidak semua bisa digantikan teknologi. Jika orang awas masih memerlukan bolpoin untuk menulis sesuatu, demikian juga dengan kita, Braille hadir akan melengkapi kebutuhan kita.

Selamat memperingati hari Braille, sukses, maju , dan sejahtera disabilitas netra Indonesia, khususnya disabilitas Netra di Jawa Timur.

                                                                                                                              

DO’A DALAM RINDU PADA IBU




By:  Rachman Hadi


            Untukmu yang air matanya pernah kutumpahkan

Untukmu yang kemarahannya pernah tertahankan

Untukmu yang cinta kasihnya tak terbandingkan

Untukmu yang do’a-do’anya selalu kuharapkan


Kini Kau jauh

Berrpeluk damai atas kasih Rabbku nan penuh

Belum pula selaksa lelah terbalas

Engkau tinggalkan aku di atas bumi yang keras


Untukmu yang doanya kupinta sepanjang waktu

Untukmu yang restunya selalu kutunggu

Maafkan puteramu yang belum mampu mengukir senyum di hidupmu

Maafkan puteramu yang tak sempat menyeka air matamu


Duhai Rab maha kasih

Mohon jagakan dia, bidadari-Mu yang selalu menepis letih

Yang menidurkanku dengan senandung tembang do’a nan lirih

Kelak izinkan aku kembali bersamanya

Melebur rindu menghambur manja dalam pangkuannya

Bersatu dalam bingkai kasih di syurga.


Kupohon do’a di waktu lima

Kutulis bait atas rindu yang membuncah di dada

Kasih dan pesanmu menghunjam di jiwa



MENGENAL IBU LEBIH DEKAT



Ibu adalah sosok luar biasa yang jika kita hitung jasanya tidak pernah terbayar oleh apapun. Mungkin kadang kita lalai atau bahkan mengabaikan segala pengorbanannya, namun ibu tak pernah peduli dengan sikap kita yang sering membuatnya cemas, khawatir, gelisah atau malah justru kita yang selalu mengganggu fikirannya hingga dia lelah atau bahkan jatuh sakit.

Pengorbanan ibu sejak kita dalam kandungannya, ibu melahirkan kita, menyusui, merawat, membesarkan hingga kita menjadi manusia yang mandiri, namun ibu tak pernah sekalipun menghitung berapa banyak pengorbanannya.

 

Sebagai penghargaan atas jasa ibu yang luar biasa, Oleh karnanya, presiden Soekarno menetapkan hari ibu sebagai hari besar nasional.

Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.

 

Pengorbanan dan perjuangan ibu tidak perlu kita bayar dengan harta atau tahta, karna jasa dan perjuangan ibu tak ternilai harganya dan tak terbilang jumlahnya. Selalu berbuat baik dan berbakti padanya itu adalah lebih mulia. Seperti dalam sebuah hadist Dari Mu’awiyah bin Haidah Al Qusyairi radhiallahu’anhu, beliau bertanya kepada Nabi:

“wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak aku perlakukan dengan baik? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: Ibumu. Lalu siapa lagi? Nabi menjawab: ayahmu, lalu yang lebih dekat setelahnya dan setelahnya” (HR. Al Bukhari dalam Adabul Mufrad, sanadnya hasan).

 

Sehingga dapat disimpulkan banyak cara untuk memberi wujud bakti pada ibu sebagai ungkapan terimakasih atas pengorbanannya. Namun yang terpenting dengan terus berbuat yang terbaik kepadanya.

DPD PERTUNI JAWATIMUR melalui biro pemberdayaan perempuan mengucapkan selamat hari ibu untuk seluruh ibu di Indonesia. 

    Dewan Pengurus Daerah (DPD) PERTUNI Jawa Timur telah melaksanakan rapat koordinasi antar pengurus pada Januari lalu. Dalam rapat tersebut, para pengurus berdiskusi tentang program kerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. Hasil dari diskusi tersebut adalah adanya sebelas program prioritas yang telah dipertimbangkan dengan matang oleh para pengurus PERTUNI Jawa Timur. Sebelas program tersebut disosialisasikan saat kegiatan rapat kerja daerah (Rakerda) yang diselenggarakan pada akhir November lalu. Adapun, sebelas program prioritas tersebut adalah:


Bakti Sosial.


Program ini bertujuan untuk membuat tunanetra lebih aktif dalam berkontribusi terhadap lingkungan sekitar atau masyarakat luas. Program ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kolaborasi dengan masyarakat/komunitas, pendistribusian (baik material maupun non material), aktif berpartisipasi memperingati hari-hari besar, dan kegiatan-kegiatan lain. Yang melaksanakan program ini adalah para tunanetra di seluruh cabang kabupaten/kota di Jawa Timur.


Kunjung Tetangga


Kunjung tetangga adalah sebuah program yang memiliki sedikit persamaan dengan bakti sosial. Program ini bertujuan untuk mengajak disabilitas netra anggota PERTUNI Cabang di Jawa Timur berpartisipasi aktif sehingga terjalin interaksi yang positif dengan masyarakat. Tujuan ini relevan dengan kondisi Sebagian tunanetra yang masih kurang percaya diri, sehingga masyarakat kurang mengetahui akan hal itu. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dalam bentuk berdiskusi aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungan sekitar, berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan dengan masyarakat, melakukan kunjungan terhadap instansi-instansi, baik pemerintah maupun non pemerintah. 


Activity Daily Living


Activity daily living adalah sebuah kegiatan yang cenderung kepada apa yang dilakukan sehari-hari. Tujuan dari program ini adalah untuk melatih kemandirian para tunanetra dalam menjalani aktifitasnya. Sebab, masih banyak tunanetra yang kurang mampu dalam melakukan aktifitas dalam kehidupan sehari-hari. 


Parenting


Masih berhubungan dengan program sebelumnya, parenting ini bertujuan untuk membuat para tunanetra menjadi lebih mandiri. Hanya saja, dalam program ini cenderung kepada keluarga yang kurang mendukung anggotanya (tunanetra) dalam mengembangkan kemampuannya. 


Memasak


Program ini bertujuan untuk membuat para tunanetra bisa mandiri dalam perihal tataboga. Karena, masih banyak tunanetra yang kurang mampu di bidang ini. Hal itu disebabkan karena kurangnya dukungan dari keluarga, atau kurangnya kemauan dari diri sendiri untuk berkembang lebih baik. Bentuk kegiatan ini berupa pelatihan-pelatihan. 

Orientasi Mobilitas


Orientasi mobilitas adalah kemampuan untuk melakukan pekerjaan secara mandiri. Baik itu dirumah maupun diluar. Program ini bertujuan untuk membuat tunanetra tidak bergantung terhadap orang lain. 


Kesehatan Reproduksi


Kekerasan seksual kerap terjadi akhir-akhir ini. Banyak anak-anak dan perempuan yang mengalami Tindakan ini. Menurut data dari kementrian pemberdayaan dan perlindungan perempuan dan anak, tahun ini telah terjadi sebanyak 23.653 kasus. Kasus terbanyak terjadi terhadap perempuan dengan 21.516 kasus. Beberapa kasus dari jumlah tersebut diantaranya terjadi pada disabilitas, khususnya disabilitas netra. Oleh karena itu, PERTUNI Jawa Timur telah mencanangkan sebuah program yang Bernama Kesehatan reproduksi. Tujuan dari program ini adalah untuk mengedukasi para tunanetra agar memahami tentang pentingnya menjaga Kesehatan reproduksi. Bentuk kegiatan ini adalah dengan diadakannya diklat ataupun talkshow. 


Diklat Penyelenggaraan Pemilu


Program ini bertujuan untuk mengedukasi para tunanetra dan juga mensosialisasikan kepada stakeholder terkait bahwa tunanetra juga memiliki hak terhadap pemilihan suara. Karena ada beberapa kasus dimana seorang tunanetra kurang mendapatkan pelayanan yang maksimal dari petugas TPS. 


Diklat Pengawasan Pemilu


Program ini masih memiliki hubungan dengan program penyelenggaraan pemilu. Hanya saja, diklat pengawasan pemilu ini lebih ke sosialisasi terhadap para tunanetra tentang pentingnya hak dan kewajiban sebagai warganegara.


Pengabdian Masyarakat


Pengabdian masyarakat adalah sebuah program yang bertujuan untuk membuat para tunanetra berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial. Contoh, turut berpartisipasi dalam membantu masyarakat dalam menanggulangi bencana disebuah daerah.


Latihan Kepemimpinan


Tujuan dari program ini adalah untuk menciptakan kader-kader muda tunanetra agar memiliki jiwa kepemimpinan. Sehingga mereka dapat berkontribusi aktif dalam organisasi. 


Kesebelas program tersebut dipresentasikan oleh beberapa pengurus PERTUNI Jawa Timur. Menurut Muhni, salah seoran peserta sekaligus ketua DPC PERTUNI Kabupaten Magetan, seluruh program tersebut sangat bagus, baik di PERTUNI sendiri maupun pemerintah. “Saya dan anggota PERTUNI Magetan sangat antusias dengan sebelas program prioritas yang telah dirumuskan oleh PERTUNI Jawa Timur”, ujar Muhni. 

Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Silvia, salah satu pemateri dalam sebelas program prioritas yang telah dipresentasikan. Menurutnya, program-program tersebut sangat penting untuk dilakukan di cabang. 

“Dari sebelas program yang di rencanakan dalam rakerda tahun ini sangat diperlukan bagi semua anggota pertuni Jatim, terutama khususnya program Diklat pengawasan pemilu. Seperti yang kita ketahui bahwa jumlah penyandang tunanetra yang memiliki hak pemilih di Jawa timur sebanyak 9.212 orang, yang dari jumlah tersebut 96,21%nya adalah anggota yang terdaftar pertuni. Namun dari jumlah hak pilih tersebut masih di ketemukan banyak anggota pertuni yang masih belum memahami tentang hak dan kewajiban mereka dalam pemilu. Untuk itu program diklat pengawasan pemilu sangat penting bagi penyandang disabilitas tunanetra anggota pertuni agar mereka mampu menyalurkan hak dan kewajiban mereka sebagai pemilih dan pengawas dalam pemilu”. “Saya harap anggota pertuni dapat dilibatkan dalam proses pengawasan pemilu oleh KPUD Jatim.”. Lanjut Silvia. 

Dalam sebuah organisasi diperlukan keahlian untuk mengelola keuangan yang dapat memperlancar kinerja di organisasi tersebut. Penanggung jawab dalam hal ini adalah bendahara. Oleh karena itu, bendahara perlu menguasai strategi untuk mengelola aktifitas keuangan. Untuk mewujudkan ketertiban dalam pengelolaan finansial, PERTUNI Jawa Timur mengadakan kegiatan sharing seputar pengelolaan finansial dalam acara rakerda yang dilaksanakan pada 25-27 November 2022 lalu. Materi ini dibawakan oleh tim bendahara PERTUNI Jawa Timur. Dalam materi ini dijelaskan mengenai bagaimana cara menulis income yang benar, struktur kepenulisan tentang debit-kredit, dan juga menggunakan Microsoft excel sebagai media untuk mengatur aktifitas keuangan dengan rapi. Para peserta sangat antusias saat pemaparan materi berlangsung.

Menurut Mahmuda, peserta asal DPC PERTUNI Kabupaten Tuban, materi ini cukup bagus. “Dengan adanya kemampuan mengelola keuangan itu menjadi lebih bisa menyesuaikan. Terus kedepannya kalau punya rencana itu biar uangnya nggak cepat habis. Nggak boros”. 

“Dalam organisasi, catatan keuangan itu sangat penting. Karena nanti kita harus melaporkan keuangan ini kepada anggota. Terutama disaat musyawarah cabang (pemilihan ketua baru di periode selanjutnya). Laporan tersebut bisa dilakukan setiap tiga bulan sekali atau satu semester juga bisa”. Ujar Dewi Sekar, ketua bendahara PERTUNI Jawa Timur sekaligus pemateri dalam manajemen keuangan. 

Dewan Pengurus Daerah Persatuan Tunanetra Indonesia provinsi Jawa Timur (DPD PERTUNI Jawa Timur) telah mengadakan rapat kerja daerah pada hari jumat-minggu, 25-27 November 2022 di UPT Bimasakti, kota Batu. Dalam kegiatan ini, terdapat banyak agenda yang bertujuan untuk membuat SDM tunanetra di Jawa Timur semakin maju. Salah satunya adalah agenda pemaparan materi tentang manajemen administrasi. Agenda ini dilaksanakan pada jumat malam setelah acara pembukaan. Materi tersebut dibawakan oleh tim kesekretariatan PERTUNI Jawa Timur. Dalam materi ini dijelaskan tata cara untuk menulis surat yang benar, bagaimana cara menulis penomoran dalam sebuah surat yang benar, dan mengatur kop surat. Para peserta sangat antusias dengan materi ini.  Menurut Rendi, salah seorang peserta asal DPC PERTUNI Kota Kediri, materi itu sudah sangat bagus. Apalagi dari peraturan pusat kan juga begitu. Jadi baguslah jika cabang bisa mengatur proses administrasi dengan baik. Pendapat serupa juga disampaikan oleh Devi, peserta dari PERTUNI Kabupaten Trenggalek. “Sangat bermanfaat sekali. Dengan materi ini, saya lebih semangat lagi untuk mengajak kawan-kawan yang seumuran dengan saya, kawan-kawan muda PERTUNI Kabupaten Terenggalek untuk aktif di PERTUNI dan tidak salah jalan.”  Menurut Diah Lutfiani, salah satu nara sumber dari tim kesekretariatan, hendaknya setiap cabang menerapkan proses administrasi yang benar. “Yang perlu diketahui adalah surat dikeluarkan oleh ketua”. Ujar diah lebih lanjut.  Banyak diantara peserta yang aktif bertanya. Melalui materi ini diharapkan seluruh pengurus PERTUNI di seluruh cabang di Jawa Timur memahami betul tentang administrasi yang baik, agar proses surat-menyurat berjalan dengan semestinya, serta melahirkan potensi-potensi tunanetra yang melek akan perkembangan digital. 


Masa kini setiap orang berlomba-lomba untuk menempatkan diri pada tempat yang dianggap dapat membawa dirinya ke fase kehidupan yang lebih baik dan menguntungkan. Baik itu dalam Pendidikan, pekerjaan, dan status social di dalam masyarakat. Hal ini berlaku pula bagi seseorang yang memiliki anugrah berupa kedisabilitasan atau memiliki perbedaan pada fisik atau pun mental.

Sejatinya menjadi disabilitas adalah ladang untuk kita menggali potensi dan memantapkan kompetensi. Namun yang sering terjadi seorang disabilitas malah terkungkung dengan tempurung ketidak mandirian sehingga potensi-potensi yang harusnya bisa dimiliki hanya menjadi keinginan diri tanpa pernah terwujud. Menurut saya, kasus ini terjadi juga pada disabilitas netra di Jawa Timur. Factor tempurung ketidak mandirian itu dapat bermacam-macam.

Dari factor internal : terbiasa di tolong dan diberikan sesuatu terkadang membuat kita lalai bahwa sebagai manusia kita juga punya kewajiban untuk berbuat sesuatu untuk orang lain, sehingga kita akan menjadi pemalas dengan sejuta bayangan keberhasilan yang tak pernah terwujud. Selain itu, kemauan menjadi mandiri terkadang tidak ada pada diri kita meskipun diluar sana kita tahu banyak teman-teman yang sudah berhasil keluar dari tempurung yang sedang membuat kita terkungkung. Biasanya, ini terjadi karena beberapa alas an yang kita buat sendiri. Alas an yang paling sering muncul adalah ketakutan. Entah takut dimarahi orang tua, takut menjadi korban kejahatan, takut jatuh, dan lain sebagainya.

Ya, memang ketakutan-ketakutan itu mungkin akan kita alami. Tapi, coba kita nilai dari sudut pandang yang positif, sesuatu yang buruk yang kita alami akan membuat kita menjadi tangguh di lain waktu bukan?

Yang berikutnya adalah factor eksternal. Ini biasanya terjadi pada lingkungan keluarga. Tidak bisa dipungkiri mempunyai anak seorang tunanetra akan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi kedua orang tua kita. Entah kekhawatiran dalam karir anak mereka nantinya, dan lain sebagainya. Selain kekhawatiran, rasa sayang yang berlebihan juga sering di dapatkan oleh seorang anak yang tunanetra. Sebenarnya, rasa khawatir dan rasa sayang yang diberikan kepada anak itu tidak salah. Namun, menjadi tidak tepat jika kedua rasa itu diberikan secara berlebihan dan dengan cara yang salah. Misal, seorang anak tunanetra yang tidak boleh melakukan aktifitas sehari-hari sendiri. Biasanya, alasan orangtua tidak memperbolehkan adalah lagi-lagi karena ketakutan. Takut terkena api, takut anaknya nanti dibohongi, dan macam-macam alas an lain.

Lalu bagaimana? Sepertinya apa yang saya paparkan di atas sudah cukup menggambarkan betapa pentingnya sebuah kemandirian dalam menggali potensi yang kita miliki. Lalu, akan kah kita masih tetap mau menjadi orang-orang yang sudah saya gambarkan di atas?

Jawa Timur adalah sebuah provinsi dengan peluang Pendidikan dan pekerjaan yang cukup besar. Khususnya bagi disabilitas netra. namun seperti yang saya paparkan di atas, banyak dari kita yang masih terjebak pada tempurung ketidak mandirian yang akhirnya menghambat kita untuk memiliki sebuah kompetensi dalam bidang tertentu.

Di akhir tulisan ini saya ingin mengajak sahabat semua untuk mulai mencoba melakukan sesuatu yang mungkin itu beresiko. Tapi ingat, apa yang kita lakukan sekarang akan menjadi gambaran siapa kita di waktu yang akan datang! Lebih baik kita berjuang untuk menguasai sebuah kompetensi tertentu daripada kita hanya berimajinasi tanpa aksi!